"Backlog" Perumahan Tinggi

Kompas.com - 20/08/2008, 14:41 WIB

 

 

 

SURABAYA, KOMPAS - Hingga tahun 2017, backlog atau penumpukan kebutuhan perumahan di Jawa Timur diperkirakan mencapai 590.000 unit. Padahal, realisasi pembangunan permukiman hanya sekitar 60.000 hingga 70.000 unit per tahun.

"Masalah yang dihadapi saat ini adalah mahalnya harga tanah di tengah kota. Karena itu, pembangunan di perkotaan diprioritaskan pada bangunan rumah susun," ujar Kepala Dinas Permukiman Provinsi Jatim Budi Susilo, Selasa (19/8) di sela-sela Sosialisasi Pasar Induk Agrobisnis Jatim dan Peresmian Rusunawa di Jemundo, Kabupaten Sidoarjo.

Menurut Budi, meski kebutuhan perumahan di perkotaan tinggi, minat para pengembang untuk membangun rumah susun sewa (rusunawa) dan rumah susun milik (rusunami) masih rendah. Hal ini disebabkan nilai investasi rusunawa dan rusunami relatif kecil.

"Para pengembang lebih suka membangun apartemen dengan bidikan segmen menengah ke atas. Sementara itu, tidak banyak pengembang yang melirik bisnis rusunawa dan rusunami karena segmen dari pasar ini adalah masyarakat menengah ke bawah," tutur Budi.

Untuk memenuhi kebutuhan permukiman bagi masyarakat kecil, Pemprov Jatim membangun lima twin block rusunawa di Kelurahan Siwalankerto, Kecamatan Wonocolo, Surabaya. Rusunawa yang dibangun di atas lahan seluas 2,2 hektar tersebut terdiri dari 465 unit hunian dengan harga sewa berkisar Rp 200.000 per bulan.

Sumber pendanaan rusunawa di Siwalankerto ini berasal dari pemerintah pusat sebesar Rp 10,2 miliar, dari Pemprov Jatim Rp 7,35 miliar, dan dari Kementerian Negara Perumahan Rakyat Rp 17,4 miliar.

Menurut Gubernur Jatim Imam Utomo, pembangunan rusunawa dan rusunami merupakan tuntutan di tengah minimnya lahan perkotaan. Dengan dibangunnya rusunawa di Siwalankerto, diharapkan masyarakat kecil dapat memiliki alternatif tempat tinggal yang terjangkau. Tidak dilibatkan

Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Pengurus Daerah Real Estat Indonesia (REI) Jatim Adri Istambul Lingga Gayo mengungkapkan, selama ini pemerintah tidak pernah melibatkan pengembang untuk membangun rusunawa dan rusunami. "Beberapa waktu lalu pernah ada gagasan untuk membuat perjanjian kerja sama antara pemerintah dan REI untuk program rusunawa dan rusunami, tetapi hingga kini belum juga teralisasi," ucapnya.

Menurut Adri, pengembang siap membantu program pemerintah membangun rusunawa dan rusunawi asalkan pemerintah memberikan dukungan. Dukungan tersebut dapat berupa bantuan stimulan, seperti subsidi, penyediaan tanah negara, dan kemudahan perizinan.

"Dengan plafon harga rusunami sekitar RP 144 juta per unit tentu saja masyarakat kecil akan kesulitan. Karena itu, agar masyarakat tidak terbebani, pemerintah perlu memberikan bantuan. Pada prinsipnya kami siap membangun rusunawa ataupun rusunami. Namun, pemerintah juga harus memberikan kejelasan jaminan," tuturnya. (ABK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau