Musim Caleg, Ki Joko Bodo Laris Manis

Kompas.com - 21/08/2008, 06:48 WIB

JAKARTA, KAMIS — Banyak Jalan Menuju Roma. Demikian kata pepatah. Entah benar atau memang terlalu memaksakan diri, tapi inilah salah satu langkah yang dipakai sejumlah calon anggota legislatif (caleg) untuk memuluskan jalannya agar terpilih sebagai anggota Dewan yang terhormat. Untuk menyiapkan diri menjelang pertarungan Pemilu 2009, para caleg mengerahkan segala cara demi ambisi menguasai kursi empuk calon wakil rakyat.

Maklum, pemilu tahun depan memang tidak seperti yang sudah-sudah. Selain memperebutkan nomor urut jadi, para calon dituntut mampu mendongkrak suara dalam jumlah besar. Ini tentu tidak semudah membalik tangan.

Karena itulah, banyak caleg yang mencoba pengobatan alternatif. Bukan berdiskusi dengan ahli strategi politik, melainkan mendatangi dukun alias paranormal untuk konsultasi cara apa yang mujarab untuk menggaet pendukung agar bisa terpilih.

Banyaknya caleg yang berkonsultasi ke dukun itu diakui paranormal kondang Ki Joko Bodo, Senin (18/8). "Caleg yang datang konsultasi ke saya ya sembunyi-sembunyi. Karena yang ke paranormal itu simbolnya kekuasaan dengan kemunafikan. Beda kalau ke kiai, itu diekspos juga tak masalah," kata Joko Bodo.

Siapa saja caleg yang datang berkonsultasi itu? Joko Bodo tak mau membocorkan. Yang jelas, kata dia, caleg yang datang kepadanya baik langsung ataupun melalui perantara orang lain jumlahnya cukup banyak. "Ada yang ingin maju menjadi anggota DPR RI, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota. Ada pula yang ke sini karena ingin tetap menjadi anggota Dewan. Tapi, ada yang sekadar coba-coba. Tentu mereka ingin menang dan terpilih," katanya.

Soal tarif konsultasi, Joko Bodo mengatakan tergantung pada caleg bersangkutan. "Mereka tentu saja bayar," ujarnya.

Menurut Joko, caleg ke paranormal bukan terjadi tahun ini saja. Dalam pemilu sebelumnya paranormal juga kebanjiran caleg. Paranormal yang tinggal di kawasan Lubang Buaya, Jakarta, ini mengatakan, konsultasi caleg ke paranormal bukan masalah sepanjang untuk tujuan yang baik.

"Artinya kalau terpilih kelak jangan melupakan rakyatnya. Kalau rakyatnya makan batu, caleg juga harus makan batu," katanya.

Joko melanjutkan, tak hanya caleg yang minta petunjuk ke paranormal. Sejumlah calon kepala daerah dan petinggi partai politik juga melakukan hal itu. "Ya orang juga tahu begitu kok," jelasnya.

Pengamat budaya asal Universitas Negeri Jember Prof Ayu Sutarto mengemukakan, banyaknya caleg atau calon kepala daerah mendatangi dukun adalah bagian dari mitos yang diyakini sebagian besar masyarakat. Ada kepercayaan bahwa selain menempuh jalur formal seperti seleksi adminsitratif lewat partai, mereka harus menempuh jalan gaib.

“Kalau orang dulu mengistilahkan ngenger, harus mengabdi dulu kepada penguasa sebelum diangkat. Tapi sekarang, mereka harus mendapatkan pulung dan wahyu. Di tingkat bawah itu diterjemahkan dengan mendatangi paranormal atau kiai,” bebernya. (BET/TOF/JBP/ACO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau