Pangkalan Minyak Tanah di Magelang Diserbu Pembeli

Kompas.com - 21/08/2008, 18:46 WIB

MAGELANG, KAMIS - Pangkalan minyak tanah di Kabupaten Magelang kini mulai diserbu pembeli asal DI Yogyakarta. Kondisi ini disebabkan oleh kelangkaan stok yang terjadi wilayah tersebut, selama sekitar seminggu terakhir.

Agus, salah seorang pembeli minyak tanah asal Tempel, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta mengatakan, minyak tanah saat ini sangat sulit diperoleh dari sekitar Kabupaten Sleman, dan Kota Yogyakarta. Karena itulah, dia pun akhirnya memutuskan untuk membeli minyak tanah dari Kabupaten Magelang.  

"Awalnya, saya hanya mencari dari desa-desa di kecamatan terdekat seperti Kecamatan Salam. Namun, saat ini permintaan di wilayah tersebut sudah mulai membeludak, maka saya pun akhirnya harus berkeliling, mencari di kecamatan-kecamatan lain," ujarnya, Kamis (21/8).

Saat ditemui, Agus sedang membeli minyak tanah di sebuah pangkalan di Kecamatan Mertoyudan. Jarak antara Tempel dengan Kecamatan Mertoyudan sendiri berkisar 30 kilometer.

Agus adalah pemilik dari dua warung makan di Tempel. Untuk memasak makanan di dua warung tersebut, dia membutuhkan 20 liter per hari. Sembari mencari kebutuhan untuk dirinya, Agus juga mencari minyak tanah bagi kakaknya Mustadi. Setiap tiga hari sekali, Mustadi yang menjalankan industri rumah tangga pembuatan tempe, memerlukan 20 liter minyak tanah.

Komarudin, seorang pegawai di pangkalan minyak tanah di Kecamatan Mertoyudan, mengatakan, konsumen dari Yogyakarta ini biasanya ingin membeli minyak tanah dalam jumlah banyak, lebih dari 50 liter per orang. "Namun, demi pemerataan, semua pelanggan disini kami batasi membeli 20 liter per orang," terangnya.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Kasno, pemilik pangkalan minyak tanah di Kecamatan Borobudur. Selama dua minggu terakhir, menurut dia, konsumen asal DI Yogyakarta mulai marak berda tangan, ingin membeli minyak tanah.  

Mereka pun akhirnya marah-marah dan mengurungkan niat untuk membeli karena pelanggan dari luar daerah, kami batasi hanya boleh membeli lima liter minyak tanah per orang, paparnya. Untuk pembeli dari sekitar Kecamatan Borobudur juga dibatasi 10 liter per orang.

Jumlah pelanggan asal DI Yogyakarta yang datang berkisar lima hingga delapan orang per hari. Setiap konsumen biasanya ingin membeli 50-100 liter minyak tanah.

Selain karena adanya tambahan pelanggan dari DI Yogyakarta, Kasno mengatakan, secara umum, permintaan minyak tanah memang sedang meningkat. Jatah lima drum minyak tanah yang biasanya habis terjual dalam tiga hari, selama dua minggu terakhir ini, sudah habis dibeli konsumen hanya dalam waktu sehari.

Ketua Bidang Minyak Tanah DPC Hiswana Migas HM Ridwan mengatakan, seiring dengan memb eludaknya permintaan dari luar daerah ini, pihaknya kini membatasi jumlah pembelian di tingkat pangkalan, maksimal 20 liter per orang. "Dengan pembatasan pembelian ini, maka diharapkan pelanggan dari Kabupaten Magelang, masih tetap dapat terlayani," ujarnya.

Upaya pembatasan pembelian ini juga sengaja dilakukan untuk mencegah penyalahgunaan minyak tanah. Sebab, pembelian diatas 20 liter dicurigai diselewengkan dip akai sebagai campuran bahan bakar bagi truk dan bus.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau