Atasi Diare, Pemkab Titeng Utara Siapkan 600 Juta

Kompas.com - 21/08/2008, 22:05 WIB

Laporan Wartawan Pos Kupang Julianus Akoit
 
KEFAMENANU, KAMIS - Sejak bulan Mei 2008, Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur, telah menyiapkan dana sebesar Rp 600 juta untuk melaksanakan program khusus Penanggulangan Diare dan Gizi Buruk di sejumlah desa. Dana ini bisa bertambah saat sidang perubahan APBD Kabupaten TTU Tahun Anggaran 2008, awal bulan September 2008 nanti, bila jumlah kasus diare dan gizi buruk meningkat.

"Bulan Mei 2008 lalu, dalam apel kesadaran, saya sudah luncurkan Program Penaggulangan Diare dan Gizi Buruk. Program ini didukung oleh DPRD Kabupaten TTU. Dukungan itu berupa persetujuan alokasi anggaran sebesar Rp 600 juta untuk menanggulangi kasus penyakit diare dan gizi buruk di Kabupaten TTU selama tahun 2008," jelas Bupati TTU, Drs. Gabriel Manek, M.Si di Kantor Bupati, Kamis (21/8) siang.

Dikatakan, jumlah dana itu bisa bertambah  saat  sidang perubahan APBD Kabupaten TTU Tahun Anggaran 2008, awal bulan September 2008 nanti, bila jumlah kasus diare dan gizi buruk meningkat.

"Selama ini pemberian makanan tambahan (PMT) terus berjalan dengan baik melalui posyandu. Kegiatan penimbangan disertai penyuluhan bagi ibu menyusui terus dilakukan. Semua berjalan baik karena memang ada dananya," kata Bupati Manek.

 Ia menambahkan kasus gizi buruk di TTU tidak selamanya disebabkan karena faktor kekurangan pangan atau gagal panen, tapi juga terkait dengan budaya makan. "Seperti dua balita  yang menderita kwashiorkor, asal Desa Manuain A, Kecamatan Insana, memiliki pantangan makan ikan, telur dan kacang hijau. Padahal makanan ini sangat bergizi. Petugas kesehatan tidak bisa memaksa balita mengkonsumsi makanan ini jika itu dianggap pemali (pantang)," kata Bupati Manek.

Selain itu, banyak faktor yang juga turut menyumbang terjadinya kasus gizi buruk dalam keluarga. "Misalnya pasangan suami istri usia muda, tidak tahu mengurus anak. Balita dibiarkan terlantar dan hanya diberi makan seadanya. Kebiasaan ini berdampak buruk bagi kesehatan anak," katanya lagi.
 
Direktur RSUD Kefamenanu, dr. Hartono, yang dikonfirmasi terpisah di lantai 2 Kantor Bupati TTU, kemarin siang, mengatakan jumlah kasus diare di TTU pada tahun 2008 ini agak menurun jika dibandingkan jumlah kasus yang terjadi pada periode Januari - Agustus 2007 lalu.

"Periode sebelumnya, yaitu Januari - Agustus 2007 lalu, jumlah kasus diare mencapai 800 kasus. Tapi sekarang sudah menurun drastis. Sampai akhir Agustus, baru 132 kasus," jelasnya.

Meski demikian, para petugas medis dan para medis, sudah ia instruksikan untuk siaga melayani pasien diare. "Bukan hanya di RSUD Kefamenanu, tapi juga di posyandu, puskesmas pembantu serta puskesmas sudah diinstruksikan oleh Kadis Kesehatan TTU untuk tanggap terhadap kasus diare dan gizi buruk," katanya.

Tentang stok obat-obatan, dr. Hartono mengatakan masih lengkap dan tersedia dalam jumlah banyak. "Obat-obatan dan vitamin serta susu untuk balita penderita diare dan gizi buruk, masih tersedia cukup banyak. Kalau sudah menipis, pasti saya ajukan untuk pengadaan lagi," katanya.
 
Sebelumnya diberitakan, Junius Christian Eko (2,5 bulan), seorang bayi asal Desa Oenenu, Kecamatan Bikomi Tengah, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), tewas di ruang Sal Anak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kefamenanu, Rabu (20/8/2008), pukul 11.10 wita. Bayi Eko adalah salah satu korban dari 132 balita di TTU yang terserang diare selama tujuh pekan terakhir.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau