Rusia (8): Katedral St.Basil, Istana Dongeng di Atas Awan

Kompas.com - 22/08/2008, 08:16 WIB

"Eh, tolong ambil foto di sini, tulisannya bisa keliatan eggak ya," kata Michael sambil menyorongkan kameranya, lalu beranjak mendekat pada sebuah spanduk bertuliskan Intercession Cathedral (St.Basil's) yang direntangkan pada pagar gereja masyur yang berdiri di ujung tenggara Lapangan Merah.

Setelah itu tak hanya Michael, tapi hampir seluruh anggota rombongan dari Jakarta yang sedang mengunjungi kawasan paling terkenal di Moskwa itu pun mengambil pose yang sama. Meski sebenarnya, tanpa memerhatikan spanduk putih itu pun, setiap orang yang bakal melihat foto tersebut pasti langsung bisa mengenali di mana foto itu diambil.

Yakin? Tentu saja, sebab sembilan kubah berwarna atraktif yang menghiasi pucuk-pucuk Cathedral of Saint Basil the Blessed atau Katedral Intersesi atau Pokrovsky Cathedral atau lebih dikenal dengan Katedral St Basil terberkati merupakan sebuah kekhasan yang tak ada duanya di dunia. Selama berabad-abad secara tradisional, bangunan kapel multi tenda itu dijadikan simbol posisi unik Rusia yang berada di wilayah Asia dan  Eropa, serta menjadi daya tarik tersendiri dari Lapangan Merah.

Siang itu, terik matahari yang bersinar tepat di atas kepala dengan langit biru bersih di kota Moskwa membuat warna-warna mirip kue tart yang mendominasi kubah-kubah sembilan kapel berpondasi tunggal itu semakin menyala. Sungguh, seperti istana dongeng yang berdiri di atas awan.

Pasti tidak ada yang menyangka bahwa di dalam keindahan St.Basil tersimpan cerita kejam dari seorang Ivan the Terrible yang berkuasa pada abad ke-15. Arsitek yang merancang St.Basil, Postnik Yakovlev sengaja dibutakan atas perintah Ivan untuk mencegah dia membangun katedral yang lebih indah.

Sembilan kapel yang disatukan menjadi katedral antara tahun 1555 dan 1561, memang dibangun untuk memperingati keberhasilan Ivan melawan Tartar Mongolia pada 1 Oktober 1552 dalam pengepungan kota Kazan. Kemudian, pada tahun 1588 Tsar Fedor Ivanovich menambahkan sebuah kapel di sisi timur di atas kuburan Basil yang Diberkati (Yurodivy Vassily Blazhenny), seorang Santo Ortodoks Rusia yang kemudian dijadikan sebagai nama katedral ini.

Konsep awal katedral ini adalah sebuah kumpulan kapel, masing-masing dipersembahkan kepada setiap santo yang hari pestanya jatuh pada saat Tsar menang dalam suatu pertempuran. Namun pembangunan sebuah menara tunggal mempersatukan ruang-ruang ini menjadi satu katedral. Masing-masing kubah awalnya didirikan dengan keunikan berdasarkan simbol keyakinan untuk memberikan gambaran tentang Jerusalem Baru, yakni Kerajaan Surga yang dilukiskan di Kitab Wahyu.

Konon, keindahan bangunan inipun sampai pernah menggoda hati Napoleon Bonaparte, pimpinan tertinggi Perancis (1769-1821) yang mempunyai  peran besar dalam sejarah Eropa. Hanya keterbatasan teknologi-lah yang mengurungkan niat besar Napoleon untuk memindahkan katedral ini ke Paris. Gagal dengan ambisinya itu, Napoleon  pun memerintahkan penghancuran St. Basil dengan menggunakan mesiu. Tapi lagi-lagi kehendak itu tak tercapai, karena tiba-tiba turun hujan lebat.

Menambah keindahan katedral, di pelataran depan St.Basil berdiri patung  perunggu yang menggambarkan Dmitry Pozharsky dan Kuzma Minin.  Mereka adalah dua tokoh yang  mengumpulkan pasukan relawan Rusia dalam menghadapi serangan Polandia pada Masa Kesusahan di akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18. Patung ini mulanya dibangun di pusat Lapangan Merah, namun pemerintah Soviet merasa patung itu menghalangi parade dan kemudian dipindahkan ke depan Katedral pada 1936.

Sayang, waktu yang minim tak memungkinkan kami untuk masuk dan menikmatin interior  bangunan yang sampai saat ini masih dibarengi dengan spekulasi bahwa unsur-unsur tertentu dari monumen-monumen Timur Lenk di Samarkand, atau unsur dari masjid Qolsharif di Kazan kental terasa pada katedral ini. Mungkin hal itu benar, karena bentuk kubah-kubahnya pun memang lebih mirip masjid daripada sebuah gereja. Tapi hal itu tetap menjadi spekulasi karena sampai saat ini pun bentuk asli masjid Qolsharif di Kazan tak pernah diketahui.


(Bersambung)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau