Konsumen Indonesia Suka Klenik

Kompas.com - 22/08/2008, 08:37 WIB

JAKARTA, JUMAT - Pemasaran, ini hal paling penting dalam berdagang ataupun berbisnis. Pemasaran akan berjalan mulus, jika pengusaha tahu karakter konsumennya. Apalagi jika berjualannya di Indonesia. Sebab warga negara kepulauan ini, memiliki keunikan tersendiri. Chairman Fronteir Consulting Group, Handi Irawan D, mengatakan konsumen Indonesia memiliki keunikan dalam budaya, komunikasi non-verbal, tingkat pendidikan dan pendapatan, regulasi, sistem sosial, serta penegakan hukum. Ia mencontohkan masyrakat Indonesia menyukai hal-hal yang berbau klenik alias supranatural, hal ini menjadi salah satu karakter unik dari konsumen Indonesia.

Oleh karena itu, konsumen di Indonesia jangan diperlukan sama dengan konsumen negara lain."Coba saja tilik beberapa merek internasional yang beriklan dengan cara negara asalnya. Misalkan produk ini membuat kita kembali ke alam. Ini tidak akan dilirik konsumen Indonesia. Mereka akan beranggapan, saya dari kecil juga sudah di tengah alam. Mau se-raket (dekat) apa dengan alam?" ujarnya saat memberikan pelatihan di depan puluhan kliennya di Jakarta, Kamis (21/8) malam.

Menurut Handi, setidaknya ada 10 karakteristik paling menonjol dari konsumen Indonesia, yaitu memorinya jangka pendek, tidak memiliki perencanaan, suka berkumpul, gagap teknologi, mengutamakan konteks daripada isi, suka buatan luar negeri, beragama dan suka supranatural, pamer dan gengsi, kekuatan sub-culture, serta rendahnya kesadaran terhadap lingkungan.

Memori jangka pendek, lanjutnya, membuat konsumen lebih memilih obat ces-pleng daripada obat yang aman atau hadiah langsung dibanding point reward. Untuk itu, pengusaha harus mengambil strategi dengan menjual produk yang berjangka pendek dan mampu mengatasi masalah, seperti obat ces-pleng. "Jangan lupa, beri hadiah langsung untuk pembeli," ujarnya.

Sifatnya yang tidak memiliki perencanaan membuat pengusaha harus menawarkan fleksibilitas, seperti kredit yang bisa ditarik ulur waktunya. Tingkatkan juga kebiasaan untuk stok produk dan display yang menarik. Sebab, konsumen cenderung impulse buying. Lalu, beri penghargaan kepada konsumen yang tidak memiliki perencanaan. Penjualan tiket pesawat merupakan contohnya. Pembelian tiket pada saat yang semakin dekat dengan hari keberangkatan, konsumen akan mendapatkan harga semakin tinggi.

"Untuk mengatasi karakter suka berkumpul, salah satunya coba bentuk komunitas. Sementara untuk sifat gaptek, coba tawarkan teknologi yang mengerti konsumen, yaitu teknologi untuk fun, prestise (gengsi), mudah digunakan, dan aman. Jangan lupa pertimbangkan jadi follower. Biarkan perusahaan lain yang mulai memunculkan teknologi itu, biar dia yang mengajarkan. Setelah mereka kelelahan, barulah masuk," jelasnya.

Beriklan, kata Handi, merupakan salah satu cara guna memasarkan produk. Saat beriklan, Handi menyarankan agar pengusaha menggunakan artis dan skenario iklan yang lucu. Namun, jangan lupa memperhatikan kemasannya juga. Karakter yang keenam, sepertinya sudah bukan rahasia umum, jika masyarakat lebih menyukai buatan luar negeri ketimbang dalam negeri. "Jadi, jangan lupa sebutkan darimana produk Anda berasal dan pilihlah nama merek dan simbol yang berbau luar negeri.Selain itu, masyarakat Indonesia masih menyukai hal-hal yang berbau agama dan supranatural. Tak heran jika jasa penyegaran rohani seperti ESQ, mendapat rating paling tinggi," paparnya.

Sifat ini, lanjut Handi, tentunya berseberangan dengan karakter nomor delapan yang masih suka pamer dan gengsi. Karakter kesembilan, kekuatan sub-culture. Beberapa daerah memiliki karakter yang berbeda sehingga, lanjut Handi, Djarum 76 akan lebih disukai di Semarang ketimbang Surabaya. Sebab, produksinya, ada di Jawa Tengah."Terakhir, konsumen Indonesia memiliki kesadaran rendah terhadap lingkungan. Oleh karena itu, posisikan environmental friendly untuk tingkat corporate, bukan pada produk," jelasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau