Presiden: Indonesia Sudah Lepas dari Krisis

Kompas.com - 22/08/2008, 12:20 WIB

JAKARTA, JUMAT - Angka pendapatan per kapita Indonesia meningkat 64 persen dalam tiga tahun yakni 2004 mencapai 1.186 dollar AS lalu naik pada 2007 mencapai 1.946 dollar AS.

Selain itu Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2007 mencapai Rp 3957 triliun menjadi 20 negara dengan PDB terbesar di dunia. Dengan dua pencapaian itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan, Indonesia telah lepas dari krisis, tetapi masih banyak tantangan yang dihadapi.

Hal itu disampaikan Presiden SBY dalam pidato Kebijakan Pembangunan Daerah di depan Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Daerah di Gedung Nusantara DPR MPR RI, Jakarta, Jumat (22/8).

Angka pendapatan per kapita yang meningkat tersebut, menurut Presiden, adalah capaian pendapatan per kapita yang lebih tinggi dari masa sebelum krisis ekonomi 1998.SBY juga mengatakan pertumbuhan ekonomi daerah pada triwulan II 2008 ada 12 propinsi yang berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional.

"Beberapa propinsi dengan pertumbuhan ekonomi sangat tinggi 8,5 persen yakni Kepulauan Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Tengah. Prestasi ini layak kita berikan apresiasi dan semoga dapat dipertahankan," kata SBY yang mengenakan batik biru.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau