Gara-gara Kemarau, Pasokan Cabai Terganggu

Kompas.com - 22/08/2008, 19:18 WIB

TASIKMALAYA, JUMAT - Menjelang bulan puasa dan hari raya Idul Fitri permintaan akan cabai merah biasanya meningkat tajam. Sayangnya, pada bulan puasa tahun ini pasokan cabai merah diperkirakan akan terganggu seiring dengan menurunnya produksi akibat kemarau beberapa bulan terakhir. Kondisi ini kemungkinan akan memicu melonjaknya harga di pasaran.

Demikian dikatakan Ketua Asosiasi Petani Sayuran-Cabai Agribisnis Tasik (Agritas) Tasikmalaya, Wawan MS, Jumat (22/8). Ia mengatakan, ada dua alasan mengapa pasokan cabai pada bulan puasa nanti minim.

Pertama, di musim kemarau beberapa bulan terakhir jarang petani yang menanam cabai karena kurangnya pasokan air. Jika menggunakan pompa air biaya bahan bakar, yang harganya telah naik, memberatkan petani. "Pada musim kemarau pertumbuhan tanaman cabai kurang baik, banyak muncul hama trip, dan produksinya menurun sekitar 20-30 persen dari total 15 ton per hektar dalam kondisi normal," kata Wawan.

Ketua Kelompok Tani Purnasari di Kecamatan Sariwangi, Kabupaten Tasikmalaya, Dadan Sopiani, mengatakan, saat ini para petani cabai baru mulai menanam cabai karena beberapa hari terakhir turun hujan. Cabai ini baru akan bisa dipanen setelah hari raya Idul Fitri. "Dari sekitar 10 hektar lahan tanaman cabai di Sariwangi yang ditanami selama ini paling Cuma 30 persennya saja. Sebabnya, pasokan air kurang," kata Dadan.

Kedua, kenaikan harga bahan bakar menyebabkan ongkos produksi naik, dari Rp 45 juta per hektar menjadi Rp 72 juta per hektar. Misalnya, sebagian besar pupuk yang dipakai petani cabai adalah pupuk nonsubsidi sehingga naiknya harga pupuk bisa sampai 100 persen setelah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Menurut Dadan, harga sarana produksi rata-rata naik 20 persen. Harga benih, misalnya, yang tadinya harganya Rp 69.000 per 10 gram menjadi Rp 74.000-Rp 75.000 setelah harga BBM naik.

Dadan menambahkan, saat ini harga cabai merah masih relatif stabil, sekitar Rp 7.000 per kilogram. Adapun cabai hijau sekitar Rp 4.500 per kilogram. Jika pasokan cabai pada bulan puasa meningkat sementara pasokannya kurang ada kemungkinan harga akan terdongkrak naik.

Karena sebagian besar petani cabai panen setelah hari Idul Fitri maka tidak menutup kemungkinan pasokan pascalebaran justru banyak yang memicu anjloknya harga.

Mengantisipasi fluktuasi harga yang ekstrem, lanjut Wawan MS, Asosiasi Pedagang Komoditas Agro (APKA) Jawa Barat akan menyebarkan informasi kebutuhan dan pasokan cabai di berbagai daerah kepada petani. Selain itu, APKA juga akan mengarahkan distribusi barang agar merata. Dengan demikian, diharapkan tidak terjadi fluktuasi harga yang ekstrem di pasar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau