Amien Rais: Kalau Rakyat Perlu Saya, Bismillah...

Kompas.com - 25/08/2008, 16:21 WIB

JAKARTA, SENIN - Seperti tak mau kalah dengan juniornya Soetrisno Bachir, wajah Amien Rais mulai muncul melalui iklan televisinya tepat di HUT ke-63 RI pada 17 Agustus lalu. Kata-kata "Merdeka bukan berarti membiarkan berjuta rakyat menderita" menjadi salah satu rangkaian kata yang mencoba menggambarkan realitas hidup masyarakat Indonesia.

Menjelang Pemilu 2009, wajar jika muncul tanda tanya, apakah mantan Ketua MPR itu akan kembali bertarung di Pilpres 2009? Pada Pemilu 2004 lalu, Amien harus gigit jari bersama Cawapresnya Siswono Yudohusodo dengan peraihan suara yang tak signifikan.

Saat ditanya mengenai hal ini, Amien, seperti halnya beberapa calon lain yang masih malu-malu mengaku, menyerahkannya pada rakyat. "Saya berpikir sederhana. Presiden itu berpulang pada rakyat. Kalau rakyat memerlukan saya, dan saya dianggap mampu untuk memimpin negeri ini, Bismillah.... Saya akan berjuang untuk tidak mengecewakan," kata Amien kepada wartawan di Gedung DPR, Senin (25/8).

Namun, Amien enggan menjelaskan pesan apa yang ingin disampaikan lewat iklannya. Siapkah Amien bertarung dengan sejumlah nama yang sudah menunjukkan sinyal siap menjari petarung Pilpres 2009? "Saya kan belum jadi Capres. Kalau rakyat tidak memerlukan saya, ngapain saya menawarkan diri atau menyorongkan diri, beriklan, dan lain-lain," ujar Amien menegaskan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau