Minyak Tanah Enggak Ada, Gas Susah, Mau Apa?

Kompas.com - 26/08/2008, 14:12 WIB

JAKARTA, SELASA - "Masalah gas lagi, gas lagi, bosen aaahh ," kata Puji, seorang ibu muda yang ditemui Kompas.com, Selasa (26/8) siang di rumahnya, sebuah gang sempit di kawasan Cipinang Latihan, RT 14 RW 13, Jakarta Timur.

Puji bukanlah pengguna gas elpiji 12 kilogram yang harganya baru saja merangkak naik. Ia adalah satu diantara jutaan pengguna gas bertabung hijau alias elpiji 3 kg. Tapi, Puji ikut resah saat harga gas elpiji 12 kg naik. Apa pasalnya?

"Waktu naik kemarin (Juli), kita juga ikut repot. Abis, yang pake 12 kilo, ngejernya yang 3 kilo juga. Jadi rebutan lah kasarnya. Yang pake 12 kilo kan pada nyimpen 3 kilo juga," ujar ibu satu anak ini.

Banyaknya konsumen yang lari ke gas elpiji 3 kg pun menyebabkan harga gas bertabung hijau itu ikut naik. Sebelumnya, Puji mengaku membeli gas elpiji 3 kg seharga Rp15.000. Sejak Juli lalu, pasca kenaikan gas elpiji 12 kg, gas yang dikonsumsinya pun ikut-ikutan naik menjadi Rp16.000 per tabungnya.

Ibu rumah tangga lainnya, Sanny juga mengeluhkan hal yang sama. Sanny, yang semula menggunakan kompor minyak, sejak hampir setahun terakhir beralih ke kompor gas sumbangan pemerintah. Diakuinya, memang lebih hemat. "Tapi kalau akhirnya susah nyarinya, gimana? Minyak enggak ada, gas langka, kita rakyat kecil begini mau apa?," katanya.

Meskipun, diakui Sanny menggunakan gas jauh lebih hemat jika dibandingkan ketika ia menggunakan kompor minyak. Gas elpiji 3 kg bisa bertahan untuk penggunaan sehari-hari selama 2 minggu. "Sebulan saya kira-kira 2 tabung lah. Hemat sih, apalagi minyak tanah kan sekarang mahal. Tapi ya itu, takutnya suka-suka cari gasnya susah. Udah banyak yang pake. Apalagi, yang biasa pake 12 kilo sekarang rame-rame juga stok yang 3 kilo," keluhnya.

Mungkin, keluhan Puji dan Sanny menjadi keluhan klasik dari para ibu. Tapi, keresahan yang wajar ketika himpitan hidup semakin sulit, orang akan berpikir, buat apa mengeluarkan uang yang lebih besar jika ada yang lebih murah? Akibatnya, konsumen elpiji 3 kg pun harus bersiap mendapat banyak 'saingan' untuk mendapatkan si tabung hijau!

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau