JAKARTA, SELASA - Pertumbuhan pasar modern atau "hypermarket" mengancam keberadaan pasar tradisional yang pertumbuhannya terus menurun. Pasar tradisonal alami kekurangan sarana dan prasarana serta pemasok.
Hal itu terkemuka dalam diskusi terbatas mengenai Penyalahangunaan Posisi Dominan dalam Industri Ritel di Jakarta, Selasa, yang dihadiri Anggota Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Muhammad Iqbal dan Pengamat Ekonomi Fadhil Hasan, Selasa (26/8).
Muhammad Iqbal mengatakan persyaratan memasok (trading term) ke pasar modern telah membuat para pemasok enggan atau tidak bisa memasok ke pasar tradisional. Pasalnya, persyaratan memasok antara lain mengharuskan pemasok tidak memberikan harga lebih murah ke pembeli lain. "Dominasi besar ritel modern terhadap pemasok itu memberikan sentimen negatif terhadap perkembangan pasar tradisional," ujarnya.
Iqbal khawatir bila kondisi tersebut dibiarkan oleh pemerintah cq Departemen Perdagangan (Depdag), pasar tradisional akan banyak yang tutup. Padahal pasar tradisional sangat dibutuhkan bagi para pemasok baru yang sedang merintis pasar.
Menurut survei AC Nielsen pada 2004-2006, pertumbuhan pasar tradisional mengalami penurunan sebesar 8,1 persen karena terdesak oleh pasar modern jumlahnya yang tumbuh mencapai 31,4 persen.
Departemen Perdagangan mencatat terdapat 13.450 unit pasar tradisional di seluruh Indonesia yang menjadi tempat berkumpulnya 12,6 juta pedagang.
Hal senada dikemukakan Pengamat Ekonomi Fadhil Hasan. Ia mendesak pemerintah segera membuat peraturan yang mendorong tumbuhnya persaingan sehat antara pasar tradisional dan pasar modern.
Ia menilai saat ini penguasaan pasar tradisional masih jauh di bawah pasar modern, sehingga pemerintah perlu membuat undang-undang "trading term" agar para ritel modern dan besar tidak menyalahgunakan posisi dominan mereka.
Survei AC Nielsen pada 2004 juga menyebutkan pangsa pasar pasar modern yang terdiri dari hypermarket, supermarket, minimarket, dan departemen store, rata-rata tumbuh sekitar 16 persen per tahun. Sedangkan, pasar tradisonal hanya tumbuh lima persen per tahun.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang