Rahasia Ramping Perempuan Mancanegara

Kompas.com - 27/08/2008, 14:03 WIB

Setiap negara mempunyai kebiasaan dan gaya hidup berbeda yang memengaruhi bentuh tubuh. Kebiasaan dan gaya hidup sehat menjadikan perempuan Perancis, Jepang, dan China bertubuh ramping. Mau meniru?

Perempuan Perancis: Makan Sambil Ngobrol
Menu makanan Perancis banyak yang padat lemak, tapi herannya tubuh para perempuan ini tetap saja langsing. Apa rahasianya? Ini ada hubungannya dengan kebiasaan makan mereka. Orang Perancis mempunyai kebiasaan menikmati makanan secara perlahan sambil berbincang. Cara makan seperti inilah yang membuat rasa kenyang cepat muncul.

Sebaliknya, makan secara terburu-buru selain membuat kalori lebih banyak masuk, kerja lambung juga akan bertambah berat karena makanan yang masuk belum dihaluskan sempurna oleh gigi dan sistem pencernaan.

Kunci dari diet perempuan Perancis, menurut Will Clower, ahli gizi dari Amerika, adalah mengonsumsi semua makanan, tapi dalam porsi terbatas. Selain itu, air dalam kemasan botol merupakan minuman favorit sepanjang hari. Bahkan, air dalam kemasan di Perancis lebih populer daripada jus buah atau soda. Mereka juga gemar mengonsumsi roti dalam porsi besar yang mengandung sedikit lemak.

Rahasia lain, perempuan Perancis kerap menutup acara makannya dengan minum kopi pahit. Rasa pahit dari kopi dapat membatasi keinginan untuk makan atau ngemil hingga jam makan berikutnya.


Perempuan Jepang: Penggemar Kacang
Mereka memasukkan nasi dan sayur sebagai menu sehari-hari. Mereka juga menggemari kacang-kacangan (terutama kedelai). Bahkan, salah satu makanan tradisional mereka, nattou, yang berasal dari kacang kedelai yang difermentasi menjadi favorit kalangan muda Jepang karena dianggap sebagai menu diet yang murah meriah.

Menu makanan orang Jepang sangat rendah lemak. Seafood mereka konsumsi dalam porsi sedang. Daging sapi dan minyak sangat sedikit ditemui dalam menu perempuan Jepang. Porsi konsumsi mereka biasanya kecil-kecil. Maklum, mereka menganut konsep kecil itu indah. Mereka menerapkan konsep ini dalam semua hal, termasuk penyajian makanan. Berbagai makanan Jepang disajikan dalam wadah yang berbeda-beda dan dalam porsi kecil-kecil.

Kebiasaan sehat mereka yang patut Anda tiru adalah berjalan kaki dan jogging. Hal ini dilatarbelakangi kondisi transportasi negara tersebut. Banyak warga Jepang  memilih berkendara umum daripada kendaraan pribadi karena lebih murah dan nyaman. Dengan begitu, mereka setiap hari harus berjalan kaki menuju ke dan dari stasiun dan halte.


Perempuan China: Penggenjot Sepeda
Tingkat obesitas di China sangat rendah. Hanya 1,5 persen perempuan China yang mengalami kegemukan. Ini mungkin karena mereka menganut prinsip keseimbangan, yin dan yang, yang mereka terapkan dalam pola makan. Mereka mengonsumsi kombinasi nutrisi yang berbeda dalam satu porsi makanan.

Pola makan food combining yang asli dikenal dengan nama Tropologi, dan telah dikenal di China sejak ratusan tahun lalu. Mereka percaya makanan yang berbeda akan mengalami proses pencernaan yang berbeda pula. Dengan pola kombinasi yang tepat, tubuh akan dapat berfungsi secara maksimal.

Nasi, mi, dan roti gandum selalu ada dalam menu sehari-hari. Pelengkapnya adalah sayuran hijau yang ditumis dengan sedikit minyak sayur. Mereka jarang mengonsumsi daging, kecuali pada momen-momen tertentu. Dalam masakan China, daging hanya digunakan sebagai penyedap rasa.

Orang China juga mempunyai kebiasaan sehat, yakni bersepeda. Sebagian besar jalan-jalan di China banyak dipadati sepeda daripada mobil. Untuk ke sana kemari, orang China lebih senang menggunakan sepeda. Maklum, di Cina mobil termasuk barang mewah sehingga jarang sekali orang yang memilikinya. Kebiasaan menggenjot sepeda ini yang membuat berat tubuh mereka terkendali. Bersepeda merupakan aktivitas aerobik yang sangat pas untuk menurunkan dan mengendalikan berat badan.


Perempuan Belanda: Doyan Sayur
Seperti China, warga Belanda juga senang bersepeda. Kalau jarak tempuhnya pendek, mereka lebih memilih mengendarai sepeda ketimbang mobil pribadi. Mereka bersepeda sambil menikmati taman tulip yang indah dan menyegarkan mata.

Pola makan orang Belanda lebih sehat karena mereka banyak mengonsumsi sayur-sayuran. Produksi sayuran Belanda cukup besar karena tanahnya subur. Hampir semua sayur yang tumbuh di dataran Eropa bisa dijumpai di sini. Orang Belanda juga tidak terlalu menyukai makanan fast food. Mereka menyukai makanan rumahan. Menu utama biasanya kentang rebus yang disajikan dengan kulitnya.

Kebiasaan orang Belanda juga sama dengan Perancis, menutup acara makan dengan minum kopi. Konsumsi kopi mereka rata-rata dua kali sehari, pagi dan sore. Kopi pahit bisa menjadi pengganjal perut untuk ngemil di sela-sela jam makan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau