Dokter Indonesia Siap Bersaing dengan Dokter Asing

Kompas.com - 27/08/2008, 19:00 WIB

JAKARTA, RABU - Globalisasi mempengaruhi perubahan di semua sektor, tidak terkecuali dunia kedokteran. Apalagi Indonesia sebagai negara berkembang dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta menjadi pasar potensial bagi masyarakat dunia di era globalisasi pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, masuknya tenaga dokter dan dokter gigi asing ke Indonesia tidak dapat dihindari.

"Untuk menghambat masuknya dokter dan dokter gigi asing ke Indonesia, kemampuan para profesional medik itu harus ditingkatkan agar setara dengan dokter asing. Jumlah dokter Indonesia yang bisa jadi tokoh-tokoh global di dunia kedokteran internasional perlu ditingkatkan. Selain nama Indonesia jadi harum, rakyat Indonesia dapat merasakan pelayanan dengan keahlian tingkat dunia," kata Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, dalam seminar bertema Indonesia Menghadapi Globalisasi Praktik Kedokteran , Rabu (27/8), di Jakarta.

Menurut Menkes, Pengaturan profesi kedokteran harus selalu pro rakyat, artinya kebijakan apa pun yang diambil harus menjamin bahwa rakyat Indonesia terlindung dari praktik dokter yang merugikan. Sesuai kebijakan Departemen Kesehatan, masuknya dokter asing hanya untuk alih teknologi. "Yang penting saat ini adalah, bagaimana kita mengawal dan menjalankan kebijakan itu dengan baik sehingga tidak disalahgunakan," ujarnya menegaskan.

Menkes meminta agar kalangan organisasi profesi yaitu Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, Perhimpunan Dokter Gigi Indonesia, dan organisasi profesi lain ikut mengawasi keberadaan dokter asing di Indonesia. "Saya minta agar kalangan organisasi profesi lebih kritis terhadap masuknya dokter-dokter asing ke Indonesia. Kalau perlu, memprotes kepada saya jika ada kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan dokter Indonesia," kata Siti Fadilah.

Perhatian kedua adalah, pendidikan kedokteran yang harus ditingkatkan terus kualitasnya. "Kita memerlukan dokter dalam jumlah cukup banyak agar disebarkan ke seluruh penjuru negara kita, sehingga rakyat di daerah terpencil dapat juga merasakan pelayanan kedokteran, sehingga tidak ada alasan untuk memasukkan dokter asing," ujarnya menambahkan.

Diakui, saat ini sudah ada lebih dari 50 Fakultas Kedokteran (FK) di Indonesia, namun mutunya belum sama sehingga hasil lulusan yang akan dimanfaatkan Depkes tidak selalu memenuhi harapan. Pendidikan dokter dan dokter gigi umumnya ada proses magang, karena itu setiap FK harus punya rumah sakit pendidikan yang memiliki tenaga kesehatan yang handal dengan jumlah kasus atau pasien yang cukup.

Dalam dunia kedokteran, integritas merupakan syarat mutlak. Integritas terhadap keilmuan dan etika kedokteran yang solid akan membuat dokter dan dokter gigi mengutamakan kesembuhan pasien sesuai janji dokternya. Nilai ini harus ditanamkan sejak awal pendidikan sehingga dokter Indonesia dapat jadi dokter yang pandai dan memberi pelayanan yang sesuai kepada masyarakat yang membutuhkan.

Menkes juga mengajak kepada semua pihak untuk bersama-sama membina dan mengawasi praktik kedokteran, sehingga bangsa Indonesia dapat menikmati pelayanan dokter dan dokter gigi yang bermutu. "Perjuangan masih panjang, namun harus disadari bahwa kita dalam fase sangat terlambat dibandingkan negara lain. Kita harus mampu menyusul ketertinggalan kita, menjadikan negara kita yang mandiri dan berdaulat, serta mampu jadi unggul dalam globalisasi ini," katanya.

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau