Pembajak Bebaskan Dua Awak Perempuan

Kompas.com - 27/08/2008, 19:21 WIB

TRIPOLI, RABU - Para pembajak sebuah pesawat Boeing 737-200 milik maskapai Sudan, yang dipaksa mendarat di Libya akhirnya membebaskan dua orang awak perempuan. Sebelumnya, pembajak telah membebaskan seluruh penumpang begitu mendarat sesuai hasil negosiasi.

"Negosiasi masih dilanjutkan dengan para pembajak untuk membebaskan awak lainnya dan meminta para pembajak untuk menyerahkan diri," ujar Mohamed Shlibek, kepala otoritas penerbangan sipil Libya seperti dilansir kantor berita Libya, JANA. Saat ini masih 6 awak yang disandera pembajak.

Otoritas Penerbangan Sipil Libya menyatakan dari 95 penumpang dan awak, sebagian besar warga negara Sudan. Hanya lima orang yang berkewarganegaraan asing, masing-masing 2 orang polisi Mesir, 2 orang warga negara Ethiopia, dan seorang warga negara Uganda.

dentitas para pembajak masih belum diketahui. Pilot pesawat milik maskapai Sun Air itu sebelumnya memberitahuka bahwa mereka berasal dari sayap Gerakan Pembebasan Sudan (SLM), kelompok garis keras di Darfur yang ingin menemui pimpinannya Abdel Wahed Mohammed al Nur di Paris, Perancis. Namun, al Nur menampik keras pengakuan bahwa pembajak dari kelompoknya.

Manajer Sun Air Airline, Mortada Hassan,  mengakui bahwa ada seorang pembajak  yang meminta makanan dan bahan bakar minyak untuk terbang ke Perancis. Pesawat milik perusahaan penerbangan swasta Sun Air Airline  yang berpusat di Khartoum itu, tinggal landas dari ibukota Darfur Selatan  menuju Khartoum. Jana memberitakan  Libya memberi izin  kepada pesawat itu mendarat  setelah pilot mengatakan kepada otoritas itu pesawat kehabisan bahan bakar minyak.

Salah satu faksi SLM  yang ikut serta dalam pemerintah regional sementara Sudan mengatakan di dalam pesawat yang dibajak itu  terdapat tujuh perwiranya. Tiga di antaranya pejabat pemerintah. Faksi itu, yang dipimpin Minni Arcua Minnawi mengatakan pihaknya masih menunggu kabar baru.

"Kami  sangat, sangat cemas  dan kami sedang melakukan segala upaya yang bisa dilakukan  untuk mengontak mereka," kata Mohammed Bashir, anggota senior  faksi itu, yang hanya satu-satunya kelompok pemberontak Darfur  yang menandatangani  perjanjian perdamaian dengan Khartoum  Mei 2006.

Darfur dilanda  konflik sejak  pemberontakan terhadap pemerintah Khartoum meletus lebih dari lima tahun lalu. Para ahli internasional mengatakan lebih dari 2,5 juta warga Darfur  mengungsi dan 200.000 orang tewas. Sudan menyebut jumlah korban tewas 10.000 orang. Kelompok pemberontak pecah menjadi lebih dari 12 faksi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau