TRIPOLI, RABU - Para pembajak sebuah pesawat Boeing 737-200 milik maskapai Sudan, yang dipaksa mendarat di Libya akhirnya membebaskan dua orang awak perempuan. Sebelumnya, pembajak telah membebaskan seluruh penumpang begitu mendarat sesuai hasil negosiasi.
"Negosiasi masih dilanjutkan dengan para pembajak untuk membebaskan awak lainnya dan meminta para pembajak untuk menyerahkan diri," ujar Mohamed Shlibek, kepala otoritas penerbangan sipil Libya seperti dilansir kantor berita Libya, JANA. Saat ini masih 6 awak yang disandera pembajak.
Otoritas Penerbangan Sipil Libya menyatakan dari 95 penumpang dan awak, sebagian besar warga negara Sudan. Hanya lima orang yang berkewarganegaraan asing, masing-masing 2 orang polisi Mesir, 2 orang warga negara Ethiopia, dan seorang warga negara Uganda.
dentitas para pembajak masih belum diketahui. Pilot pesawat milik maskapai Sun Air itu sebelumnya memberitahuka bahwa mereka berasal dari sayap Gerakan Pembebasan Sudan (SLM), kelompok garis keras di Darfur yang ingin menemui pimpinannya Abdel Wahed Mohammed al Nur di Paris, Perancis. Namun, al Nur menampik keras pengakuan bahwa pembajak dari kelompoknya.
Manajer Sun Air Airline, Mortada Hassan, mengakui bahwa ada seorang pembajak yang meminta makanan dan bahan bakar minyak untuk terbang ke Perancis. Pesawat milik perusahaan penerbangan swasta Sun Air Airline yang berpusat di Khartoum itu, tinggal landas dari ibukota Darfur Selatan menuju Khartoum. Jana memberitakan Libya memberi izin kepada pesawat itu mendarat setelah pilot mengatakan kepada otoritas itu pesawat kehabisan bahan bakar minyak.
Salah satu faksi SLM yang ikut serta dalam pemerintah regional sementara Sudan mengatakan di dalam pesawat yang dibajak itu terdapat tujuh perwiranya. Tiga di antaranya pejabat pemerintah. Faksi itu, yang dipimpin Minni Arcua Minnawi mengatakan pihaknya masih menunggu kabar baru.
"Kami sangat, sangat cemas dan kami sedang melakukan segala upaya yang bisa dilakukan untuk mengontak mereka," kata Mohammed Bashir, anggota senior faksi itu, yang hanya satu-satunya kelompok pemberontak Darfur yang menandatangani perjanjian perdamaian dengan Khartoum Mei 2006.
Darfur dilanda konflik sejak pemberontakan terhadap pemerintah Khartoum meletus lebih dari lima tahun lalu. Para ahli internasional mengatakan lebih dari 2,5 juta warga Darfur mengungsi dan 200.000 orang tewas. Sudan menyebut jumlah korban tewas 10.000 orang. Kelompok pemberontak pecah menjadi lebih dari 12 faksi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang