TRIPOLI, RABU - Drama pembajakan pesawat Boeing 737-200 milik maskapai penerbangan swasta Sudan, Sun Air, akhirnya berakhir setelah 22 jam berlangsung. Dua orang pembajak akhirnya menyerahkan diri di bandara Kufra, wilayah pinggiran Libya di Gurun Sahara setelah melakukan serangkaian negosiasi dengan aparat keamanan Libya.
Hal tersebut dilakukan para pembajak tak lama setelah membebaskan semua penumpang dan dua orang awak pesawat. Para pembajak urung melanjutkan perjalanan dengan pesawat tersebut dan akhirnya melepaskan enam orang awak lainnya yang masih ditahan sebelum akhirnya menyerah.
Jumlah pembajak di dalam pesawat tersebut masih simpang siur selama negosiasi dilakukan. Namun, hanya dua orang yang tersisa di dalam pesawat tersebut saat para pembajak menyerah. Padahal sebelumnya jumlha pembajak diperkirakan hingga 10 orang. Pembajak lainnya diperkirakan lolos dan berada di antara puluhan penumpang yang keluar pesawat saat dibebaskan secara bersama-sama.
Diplomat Sudan, Mohammed Al-Balla menyatakan kedua pembajak tampak kelelahan saat digelandang ke ruang VIP bandara usai menyerah. Di akhir negosiasi, pembajak meminta syarat suaka dari pemerintah Libya untuk menyerahkan diri. Namun, tidak jelas apakah permintaan tersebut akhirnya dijamin pasti diberikan oleh Pemerintah Libya.
Masing-masing pembajak membawa pistol saat melakukan aksinya. Pesawat Sun Air dibajak sejak berangkat dari Nyala, daerah paling selatan dekat Darfur, Selasa (26/8). Pesawat yang seharusnya terbang menuju Khartoum, ibukota Sudan, terpaksa mendarat di Kufra, Libya setelah kehabisan bahan bakar.
Direktur Bandara Kufra, Khaled Sasiya mengatakan setelah mendarat, para pembajak meminta peta dan bahan bakar untuk terbang ke Paris. Mereka mengaku sebagai anggota sayap organisasi garis keras Gerakan Pembebasan Sudan (SLM) yang ingin bertemu pimpinannya di Perancis. Namun, pihak SLM menampik pengakuan tersebut. Bahkan, di dalam pesawat ikut serta mantan pemberontak SLM yang kini duduk di dalam Sudan Transitional Authority, lembaga yang dibentuk untuk mengakhiri konflik pemerintah dan pemberontak di Sudan.
Direktur Eksekutif Sun Air, Murtada Hassan menilai motif pembajakan tersebut pribadi. Menurutnya, para pembajak tidak melakukan atas nama kelompok politik atau pemberontak yang selama ini bertikai di Sudan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang