Laporan wartawan Kompas Haryo Damardono
JAKARTA, KAMIS- Pengamat penerbangan Dudi Sudibyo menegaskan bahwa kecelakaan pesawat Sriwijaya Air di Jambi, Rabu (27/8) sore kemarin, tergolong kecelakaan serius. "Bila benar mesin pesawat sebelah kanan terlepas, maka kecelakaan itu tergolong serius di dunia penerbangan," kata Dudi, saat dihubungi Kompas, Kamis (28/8) pagi ini.
Biasanya, kecelakaan pesawat saat pendaratan hanya berupa ban pecah atau suspensi rusak. Suspensi rusak terjadi saat Batavia Air mendarat di Pangkalpinang atau Garuda Indonesia pecah ban di Banjarmasin.
Dudi menegaskan, penyebab kecelakaan harus diselidiki terlebih dahulu sebelum menarik kesimpulan. Tetapi, dia mengasumsikan pendaratan pesawat dilakukan dengan keras (hard-landing), sehingga ada sejumlah kerusakan pada badan pesawat, serta pesawat keluar landasan.
Harus pula diselidiki apakah pendaratan dilakukan dengan salah, misalnya nose-wheel (roda depan) dahulu yang menyentuh landasan sehingga patah. "Karena yang benar, pendaratan dilakukan dengan menyentuhkan main-wheel (roda utama) terlebih dahulu," ujar Dudi.
Terkait dengan tipe pesawat yakni Boeing 737-200 yang umumnya berumur tua, Dudi menegaskan tidak ada masalah dengan keselamatan penerbangan, dengan catatan dirawat dengan baik.
Meski demikian, Dudi mengatakan posisi mesin pesawat B737-200 memang lebih rendah dan lebih dekat landasan, dibandingkan posisi mesin pesawat B737-300 dan B737-400. "Saya memperkirakan sayap pesawat itu rusak akibat kecelakaan itu. Hal itu sangat serius walaupun mungkin tidak ada korban jiwa," kata Dudi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang