Banyak Kader Hengkang, Partai Buruh Minim Stok Caleg

Kompas.com - 28/08/2008, 21:24 WIB

JAKARTA, KAMIS - Ditinggal hengkang sejumlah kader andalan ke partai lain membuat Partai Buruh kewalahan dalam menyusun daftar calon legislatif (caleg). Partai politik yang menjadi peserta Pemilu 2009 usai memenangkan gugatan atas Komisi Pemilihan Umum (KPU) di PTUN ini kekurangan stok caleg. Hal itu disampaikan Ketua Umum Partai Buruh, Mochtar Pakpahan di Jakarta, Kamis (28/8).

"Terus terang kami kewalahan karena kader kami banyak yang pindah.Yang masih bertahan adalah kader-kader aktivis serikat buruh dan LSM. Sementara basis intelektual, finansial sudah pergi semua," jelas Muchtar kepada wartawan, Kamis (28/8).

Beberapa kader Partai Buruh yang berpindah kendaraan politik untuk bisa masuk ke Senayan di antaranya Dhita Indah Sari yang hengkang ke Partai Bintang Reformasi (PBR). Robert Anton ke PPPI. Juga, Idin Rosidin yang memilih menyeberang ke Partai Gerindra.

Berpindahnya sejumlah kader partai ke partai lain menurut Pakpahan adalah hal yang biasa. karena hak setiap individu untuk mengambil pilihan politik. Namun, di balik itu, Mochtar mengatakan ada persoalan pragmatisme sebagai imbas dari tidak diloloskannya Partai Buruh sebagai peserta Pemilu 2009 oleh KPU pada tanggal 7 Juli silam.

Karenanya, ia merasa bahwa partainya telah dizalimi oleh KPU. "Karena KPU tidak meloloskan Partai Buruh ya mereka hengkang. Ini kezaliman dari KPU yang kami rasakan," sambung Pakpahan.

Oleh KPU, Partai Buruh masih diberi waktu khusus untuk menyusun daftar caleg mereka sampai 31 Agustus. Dan Mochtar  berharap, dalam 3 hari terakhir ini partainya bisa memenuhi target minimal 75 persennya.

Berpindahnya sejumlah kader partai itu tidak hanya menyebabkan Partai Buruh kesulitan menyusun daftar caleg. Pakpahan juga mengaku harus merevisi target perolehan suara partainya pada Pemilu legislatif 2009. Partai Buruh kata dia, terpaksa harus menurunkan target. Jika pada waktu pendaftaran parpolnya ke KPU beberapa bulan silam, bekas aktivis organisasi buruh ini meyakini partainya akan mampu meraih 10 hingga 15 persen, kini Pakpahan mengaku yang terpenting bagi partainya adalah bisa memenuhi ambang batas perolehan suara (Electoral Treshold) sebesar 2,5 persen.

"Jelas berpengaruh. Waktu itu, tabungan daftar caleg kami hampir 100 persen, dan itu terdiri dari basis utama aktivis, intelektual, lalu sumber finansial pengusaha menengah ke atas, jadi kami yakin. Sekarang ini nggak berani lagi. Kalau Tuhan memberkati, lolos ET saja kami sudah sangat bersyukur," pungkas pria yang selalu tampil di publik dengan mengenakan peci hitam di kepalanya ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau