JAKARTA, KAMIS - Ditinggal hengkang sejumlah kader andalan ke partai lain membuat Partai Buruh kewalahan dalam menyusun daftar calon legislatif (caleg). Partai politik yang menjadi peserta Pemilu 2009 usai memenangkan gugatan atas Komisi Pemilihan Umum (KPU) di PTUN ini kekurangan stok caleg. Hal itu disampaikan Ketua Umum Partai Buruh, Mochtar Pakpahan di Jakarta, Kamis (28/8).
"Terus terang kami kewalahan karena kader kami banyak yang pindah.Yang masih bertahan adalah kader-kader aktivis serikat buruh dan LSM. Sementara basis intelektual, finansial sudah pergi semua," jelas Muchtar kepada wartawan, Kamis (28/8).
Beberapa kader Partai Buruh yang berpindah kendaraan politik untuk bisa masuk ke Senayan di antaranya Dhita Indah Sari yang hengkang ke Partai Bintang Reformasi (PBR). Robert Anton ke PPPI. Juga, Idin Rosidin yang memilih menyeberang ke Partai Gerindra.
Berpindahnya sejumlah kader partai ke partai lain menurut Pakpahan adalah hal yang biasa. karena hak setiap individu untuk mengambil pilihan politik. Namun, di balik itu, Mochtar mengatakan ada persoalan pragmatisme sebagai imbas dari tidak diloloskannya Partai Buruh sebagai peserta Pemilu 2009 oleh KPU pada tanggal 7 Juli silam.
Karenanya, ia merasa bahwa partainya telah dizalimi oleh KPU. "Karena KPU tidak meloloskan Partai Buruh ya mereka hengkang. Ini kezaliman dari KPU yang kami rasakan," sambung Pakpahan.
Oleh KPU, Partai Buruh masih diberi waktu khusus untuk menyusun daftar caleg mereka sampai 31 Agustus. Dan Mochtar berharap, dalam 3 hari terakhir ini partainya bisa memenuhi target minimal 75 persennya.
Berpindahnya sejumlah kader partai itu tidak hanya menyebabkan Partai Buruh kesulitan menyusun daftar caleg. Pakpahan juga mengaku harus merevisi target perolehan suara partainya pada Pemilu legislatif 2009. Partai Buruh kata dia, terpaksa harus menurunkan target. Jika pada waktu pendaftaran parpolnya ke KPU beberapa bulan silam, bekas aktivis organisasi buruh ini meyakini partainya akan mampu meraih 10 hingga 15 persen, kini Pakpahan mengaku yang terpenting bagi partainya adalah bisa memenuhi ambang batas perolehan suara (Electoral Treshold) sebesar 2,5 persen.
"Jelas berpengaruh. Waktu itu, tabungan daftar caleg kami hampir 100 persen, dan itu terdiri dari basis utama aktivis, intelektual, lalu sumber finansial pengusaha menengah ke atas, jadi kami yakin. Sekarang ini nggak berani lagi. Kalau Tuhan memberkati, lolos ET saja kami sudah sangat bersyukur," pungkas pria yang selalu tampil di publik dengan mengenakan peci hitam di kepalanya ini.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang