Hey, Jangan "Ngobrol" Sendiri...

Kompas.com - 29/08/2008, 07:17 WIB
JAKARTA, JUMAT — "Hey, jangan ngobrol sendiri!" Suara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggelegar di tengah-tengah sidang kabinet paripurna di Ruang Sidang Kabinet, Lantai II, Kantor Presiden, Kompleks Istana, Jakarta, Kamis (28/8) siang.

Sambil menunjuk ke arah kelompok pimpinan badan yang duduk di ujung tengah lingkaran arah utara ruang sidang, Presiden dengan agak marah menegur beberapa peserta sidang yang tengah mengobrol. Saat itu Presiden sedang memberikan pengarahan mengenai proses renegosiasi kontrak LNG Tangguh di Provinsi Papua.

Di kelompok badan ini duduk berjejer Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Didi Widayadi, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sjamsir Siregar, dan Direktur Utama Perusahaan Umum Bulog. Tampaknya yang sibuk berbincang-bincang di antaranya Didi dan Rusman.

Sebelumnya, kelompok pimpinan badan ini baru memperbincangkan apa yang telah disampaikan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla mengenai upayanya membuka pintu jalan perundingan kembali kontrak LNG Tangguh.

”Dengarkan! Jangan bicara sendiri dong,” kata Presiden. Presiden saat itu tengah menjelaskan bahwa dia bersama Wapres tidak ikut menentukan keputusan harga penjualan gas alam kontrak LNG Tangguh sebagaimana pernah dituduhkan mantan Presiden Megawati Soekarnoputri beberapa hari lalu tentang kontrak LNG Tangguh.

”Coba sini. Nanti.... Ini masalah yang penting ya!” kata Presiden mengingatkan. Sesaat kemudian Presiden melanjutkan pengarahannya sebelum meminta pers meninggalkan ruang sidang kabinet paripurna karena sidang kabinet segera dimulai. (Suhartono)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau