Produksi Panser Pindad Bukan untuk Parade HUT TNI

Kompas.com - 29/08/2008, 16:00 WIB

BANDUNG, JUMAT-Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla menegaskan bahwa produksi 150 unit panser yang kini tengah dikebut PT Pindad, Bandung, Jawa Barat, bukan sekadar untuk parade hari ulang tahun TNI pada 5 Oktober mendatang. Akan tetapi, untuk persiapan pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di waktu mendatang.

Hal itu disampaikan Wapres Kalla dalam keterangan pers, seusai mendengarkan paparan dan meninjau lokasi pabrik PT Pindad di Bandung, Jawa Barat, Jumat (29/8) siang. Dalam kunjungan kerja sehari itu, Wapres Kalla didampingi sejumlah menteri kabinet seperti Menteri Perindustrian Fahmi Idris dan Sekjen Departemen Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, yang mewakili Menteri Pertahanan Juwono Soedarsono, Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Agustadi Sasongko Purnomo dan Direktur Utama Pindad Adik A Soedarsono. Hadir pula Seswapres Tursandi Alwi, Sesmeneg BUMN Said Didu dan Dirut Bank Rakyat Indonesia (BRI) Sofyan Basir dan Dirut PT Krakatau Steel Aswar Bujang serta lainnya.

"Dari 150 unit panser yang akan diproduksi sampai tahun 2009, akan siap pada hari TNI 5 Oktober sebanyak 10 unit. Akan tetapi, itu sebenarnya bukan untuk parade hari ulang tahun. Jadi, jangan pikir hanya untuk 5 Oktober. Bahwa ada yang untuk parade, biarkan berjalan. Tetapi, untuk persiapan pertahanan negara," ujar Wapres Kalla.

Tentang adanya kenaikan bahan baku baja dan transportasi pengangkutan baja, Wapres Kalla menegaskan untuk kontrak 2008 ini tidak ada persoalan. Namun, untuk tahun 2009, tentunya kontrak produksi panser produksi Pindad harus masuk dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2009. "Hanya memang harganya berbeda. Jadi, tidak ada eskalasi untuk bahan bajanya. Namun, pemerintah siap, karena kalau produksi sendiri harganya lebih murah 60 persen. Karena memang mahal, apalagi yang produks Eropa," tambah Wapres Kalla.

Wapres Kalla optimis targetnya selesai karena setiap bulan bisa diselesaikan dua panser. Karena karoserinya dikerjakan di Pindand dan hanya mesinnya yang diimpor dari dari Perancis. Sebelumnya, dalam paparan yang disampaikan Adik, selain masalah bea masuk yang menghambat juga ada masalah kenaikan bahan baku baja sebesar 62-100 persen. (HAR)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau