Laporan wartawan Kompas Suhartono
BANDUNG, JUMAT - Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla menegaskan kenaikan harga gas elpiji tidak akan mengancam program konversi minyak tanah yang dijalankan pemerintah sekarang ini. Sebab, kalaupun terjadi pengalihan konsumsi gas elpiji dari tabung 12 kilo ke tabung 3 kilo, kebutuhannya akan tetap terpenuhi.
"Saya sudah minta supaya berapapun kebutuhan orang akan tabung 3 kilo tersebut, Pertamina harus memenuhinya agar tidak terjadi kelangkaan. Jadi, tidak akan mengancam (konversi)," tandas Wapres Kall menjawab pers, seusai mendengarkan paparan dan meninjau lokasi pabrik PT Pindad di Bandung, Jawa Barat, Jumat (29/8) siang.
Pers sebelumnya menanyakan apakah kenaikan harga gas elpiji pekan lalu dapat mengancam program konversi minyak tanah ke gas? Seperti dikhawatirkan, masyarakat yang sebenarnya mampu menggunakan tabung gas elpiji 12 kilo beralih ke tabung 3 kilo. Padahal tabung 3 kilo diperuntukan bagi rumah tangga miskin.
Dalam kunjungan kerja sehari itu, Wapres Kalla didampingi sejumlah menteri kabinet seperti Menteri Perindustrian Fahmi Idris dan Sekjen Departemen Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, yang mewakili Menteri Pertahanan Juwono Soedarsono, Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Agustadi Sasongko Purnomo dan Direktur Utama Pindad Adik A Soedarsono. Hadir pula Seswapres Tursandi Alwi, Sesmeneg BUMN Said Didu dan Dirut Bank Rakyat Indonesia (BRI) Sofyan Basir serta Dirut PT Krakatau Steel Aswar Bujang.
Menurut Wapres Kalla, tabung yang 3 kilo untuk masyarakat bawah. Adapun tabung yang 12 kilo untuk masyarakat yang mampu. "Akan tetapi, meskipun naik, selisihnya tidak besar, yaitu sekitar Rp 1.500 kenaikannya antara tabung yang 12 kilo dengan tabung yang 3 kilo," tambah Wapres Kalla. Program konversi minyak tanah ke gas bagi kalangan rumah tangga tidak mampu dijalankan pemerintah sejak tahun lalu sebagai upaya penghematan bahan bakar minyak (BBM) yang ditanggung besar subsidinya oleh pemerintah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang