FPDIP: Renegosiasi Kontrak LNG Tangguh, Konsumsi Politik JK

Kompas.com - 30/08/2008, 11:42 WIB

JAKARTA, SABTU - Anggota Komisi VII DPR asal F-PDIP Effendi MS Simbolon merespon bola panas yang digulirkan Wakil Presiden Jusuf Kalla terkait rencana pemerintah yang akan merenegosiasi ulang kontrak LNG Tangguh di Provinsi Papua.

Kontrak tersebut antara Indonesia dan RRC dibuat tahun 2002, di masa pemerintahan Megawati. Jusuf Kalla menyebut kontrak itu sebagai kontrak terburuk sepanjang sejarah. Alasannya, Indonesia menjual energinya dengan harga yang sangat murah.

Bagi Simbolon, apa yang digulirkan JK hanyalah konsumsi politik untuk 'menyerang' PDIP. Ia menantang JK untuk melakukan price review bahkan hingga diterminasi. "LNG Tangguh ini hanya konsumsi politik JK. Tindakan yang tidak gentlement. Harga yang ditawarkan Indonesia saat itu sudah tinggi. Kalau SBY-JK semangat untuk membuka kontrak ini silakan. PDIP akan terbuka. Apalagi SBY sampai marah-marah di sidang kabinet, untuk acting memperlihatkan seolah-olah serius merespon kontrak ini. Tidak perlulah seperti itu. Kalau dianggap tidak benar, silakan saja dianalisa," kata Simbolon dalam diskusi Carut Marut Pengelolaan LNG dan LPG, di Jakarta, Sabtu (30/8).

Seharusnya, lanjut Simbolon, jika memang benar-benar merenegosiasi kontrak LNG Tangguh, jangan hanya tertuju pada kontrak yang dinilai buruk. Lebih jauh, juga melihat bagaimana proses awal lahirnya kontrak tersebut. "Kalau memang serius, ya diproses sejak awal, tim yang berangkat ke sana (China) siapa. Itu bukan kerjaan JK sebenarnya untuk mengubek-ubek kontrak ini. Kalau ada kesalahan, kami siap diproses hukum tapi sekarang ini, JK kurang dewasa membunyi-bunyikan kontrak ini karena merupakan kerja orang banyak," kata Simbolon.

Dalam kesempatan yang sama, pengurus harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi mengatakan, terlepas dari persoalan adanya politisasi masalah ini, seharusnya renegosiasi atau kaji ulang seluruh kontrak energi. Menurut Tulus, hampir semua kontrak energi tidak fair bagi Indonesia.

"Saya tidak mau terjebak dengan adanya politisasi atau apa. Tapi dari kawan-kawan LSM melihat banyak kontrak energi yang harus direview karena tidak fair. Kalau kita runut, berawal dari saat terjadinya krisis ekonomi," ujar Tulus.

Kontrak LNG Tangguh disepakati berlangsung selama 25 tahun. Dalam kontrak disebutkan bahwa evaluasi akan dilakukan 4 tahun setelah pengiriman pertama. Pengiriman pertama akan berjalan pada Oktober mendatang.

Pengamat migas Dirgo Purbo berpendapat, jika kontrak dinilai merugikan, sebaiknya dijalankan dulu sesuai kesepakatan awal. "Tidak perlu diangkat-angkat dengan memberi kaidah bahwa kontrak itu jelek. Long Term Contract itu sudah biasa untuk kontrak energi. Jangan langsung diobok-obok, karena akan terjadi kekhawatiran pembeli," kata Dirgo.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau