JOMBANG - Pernyataan polisi yang menyebut ada dua Asrori, masing-masing Asrori alias Lucky yang ditemukan di perkarangan rumah Ryan, Dusun Maijo, Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, dan Asrori yang ditemukan di kebun tebu Desa/Kecamatan Bandarkedungmulyo dan kemudian dikubur di Desa Kalangsemanding, Kecamatan Perak, membingungkan kalangan gay dan waria di Jombang.
Penelusuran Surya, di komunitas gay dan waria, nama Lucky tidak dikenal. Padahal, para korban Ryan hampir semuanya dari kalangan gay. Ketua Ikatan Waria Jombang (Iwajo), Rika, mengungkapkan, dirinya sama sekali tidak tahu dan tidak pernah mendengar nama Lucky alias Asrori, baik di kalangan waria maupun gay.
“Memang kalangan gay itu lebih tertutup dan belum mau menonjolkan eksistensinya seperti kita kaum waria ini. Tapi, dari beberapa gay yang saya kenal, tidak ada yang bernama Lucky,” kata Rika, Minggu (31/8).
Justru dari kalangan mereka mengenal nama Asrori alias Aldo. “Kalau Asrori dengan ciri-ciri tidak tinggi, giginya gingsul, saya pernah kenal,” kata Yudit, anggota Iwajo.
Rika lantas memberikan nama Budi Affan, warga Desa Ceweng, Kecamatan Diwek, Jombang, yang dikenal sebagai gay untuk ditemui. Budi ini, menurut Rika, dikenal sebagai 'bapak'-nya gay Jombang. Tapi sayangnya, ketika coba ditemui di kediamannya, orangnya sudah pindah ke Sidoarjo, sedangkan rumahnya dikontrakkan.
Tapi individu berinisial OK, yang disebut-sebut sebagai gay, mengaku tak pernah mendengar nama Lucky. Ketika disinggung nama Aldo, dia mengaku pernah mendengar, kendati tak pernah bertemu muka. “Ya dengar-dengar saja,” kata laki-laki berpenampilan luwes dan berprofesi MC itu.
Ery, dari Jombang Care Center (JCC), sebuah LSM yang bergerak antara lain dalam pendampingan orang dengan HIV/AIDS (ODHA) serta orang-orang berisiko tinggi terhadap HIV/AIDS, dan banyak bergaul dengan komunitas gay dan waria, mengaku tak pernah mendengar nama Lucky. “Dari yang sudah terjangkau pendampingan kami, rasa-rasanya tidak ada nama Lucky,” imbuh Ery.
Di sisi lain, keyakinan bahwa Asrori alias Aldo adalah Mr X di belakang rumah Ryan, tetap kuat. Uci, warga Desa Kalangsemanding yang juga teman sekolah Asrori saat di Madrasah Tsanawiyah, mengaku Asrori memang suka memakai gelang dan kalung. “Kalung yang dipakai berganti-ganti. Kadang dari logam putih, kadang dari rangkaian manik-manik seperti tasbih,” ungkap Uci. Ciri ini cocok dengan yang menempel pada mayat Mr X di belakang rumah Ryan.
Kerabat dekat Ryan yang selama ini menjadi sumber Surya dan ikut menjenguk Ryan di tahanan Polda Metro Jaya 17 Agustus lalu mengungkapkan, yang dimaksud Ryan bahwa dia membunuh Aldo tersebut, tak lain adalah Asrori warga Desa Kalangsemanding.
Bahkan menurut sumber itu, ketika ditekankan bahwa Asrori itu sudah dibunuh pada September, dan mayatnya ditemukan di kebun tebu, sementara Ryan mengaku membunuh Aldo akhir Oktober atau November, Ryan sempat membentaknya. “Saya dibentak dengan mengatakan, 'Asrori ya Aldo itu! Dia dikabarkan sudah mati, ya saya bunuh sekalian',” kata sumber itu, menirukan Ryan.
Ryan, kata sumber itu, bahkan dengan agak rinci membeberkan ciri fisik Asrori alias Aldo yang dibunuhnya sehabis Idul Fitri 2007, dan kemudian dikubur di belakang rumahnya. Ciri-ciri fisik itu antara lain tubuh agak pendek, dan gigi gingsul. Ini sama dengan ciri Asrori sebagaimana yang dipaparkan keluarga Asrori.
Untuk diketahui, Moch Asrori adalah satu dari 10 korban pembunuhan Feri Idham Henyansah alias Ryan, yang dikubur di belakang rumah orangtuanya di Jatiwates, Tembelang, Jombang. Asrori sempat tak dikenali setelah Ryan -yang diperkirakan membunuhnya pada Desember 2006-- tak ingat dengan identitas Asrori.
Mayat itu kemudian disebut Mr X (tak dikenal). Mayat Mr X ini diduga sebagai korban pertama pembunuhan Ryan. Sembilan korban lain yang dikubur di belakang rumah orangtuanya, umumnya dibunuh pada awal hingga akhir tahun 2007.
Namun, 17 Agustus 2008 lalu Ryan akhirnya ingat dan menyebut mayat Mr X korbannya yang dikubur di dekat pohon salak rumah orangtuanya itu adalah Asrori. Pengakuan ini awalnya tak digubris polisi karena sudah ada orang yang divonis bersalah atas pembunuhan Asrori. Kata polisi waktu itu, Asrori bukan dibunuh Ryan tapi dibunuh orang lain dan mayatnya dibuang di kebun tebu di Desa/Kecamatan Bandarkedungmulyo.
Dua orang yang sudah dipenjara terkait mayat Asrori di kebun tebu adalah Imam Khambali alias Kemat, 34, dan Devid Eko Priyanto, 18. Keduanya divonis 17 dan 12 tahun oleh PN Jombang pada 8 Mei 2008 lalu, dan kini mendekam di LP Jombang.
Akan tetapi, 27 Agustus lalu polisi mengakui Asrori warga Kalangsemanding yang sesungguhnya adalah Asrori yang dibunuh Ryan, dan dikubur di belakang rumah orangtuanya. Bukan yang di kebun tebu itu. Kepastian itu diperoleh setelah dilakukan uji DNA di Labfor Polri terhadap mayat Mr X, yang dibandingkan dengan sampel darah orangtua Asrori, yakni Jalal dan Dewi Muntari. Dengan kepastian itu, mayat di kebun tebu menjadi teka-teki identitasnya, atau ada yang menyebutnya Asrori palsu.
Kemudian 29 Agustus lalu ada perkembangan baru. Mabes Polri mengatakan mayat di kebun tebu juga bernama Asrori. Dengan begitu ada dua Asrori. Namun Mabes Polri tak menyebutkan Asrori di kebun tebu itu beralamat di mana dan bagaimana sampai berkesimpulan mayat itu juga bernama Asrori.
Selain menyebut adanya dua Asrori, Polri mengatakan Kemat dan Devid bisa jadi bukanlah korban salah tangkap. Keduanya mungkin saja terkait pembunuhan dengan Asrori di kebun tebu itu. "Memang bisa saja salah nama, tapi yang jelas ada korban pembunuhan di kebun tebu itu," kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Abubakar Nataprawira di Jakarta, Jumat (29/8).
Alasan polisi tentang kemungkinan adanya dua nama Asrori adalah keterangan dari Ryan sendiri. Saat disodori penyidik dengan foto Asrori asal Kalangsemanding, Ryan mengaku tak mengenal. Menurut Abubakar, Ryan mengatakan Asrori yang dibunuhnya di belakang rumahnya adalah Asrori dengan alias Lucky. Bukan Asrori alias Aldo, seperti selama ini disebut-sebut.
Sementara itu, Muhammad Affandi, 28, warga Desa Mojokrapak Kecamatan Tembelang, Jombang, yang semula diduga menjadi salah satu dari 11 korban Ryan, tiba di Jombang. Pemuda yang sebelumnya 'nyaris' dinyatakan oleh polisi sebagai Mr X yang dikubur di belakang rumah Ryan, muncul di Mapolres Jombang, Minggu (31/8).
“Kami sekadar memberitahukan atau melaporkan, Affandi masih hidup,” kata Lukman Khakim, kakak kandung Affandi yang ikut mengantar ke Mapolres Jombang. (st8)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang