PERHATIAN pers asing terhadap Barack Obama, benar-benar luar biasa. Calon Presiden Amerika Serikat itu, kini menjadi perhatian khusus. Begitu juga mereka-mereka yang terkait dengan Obama, tak luput dari incarannya. Wartawan Tribun Kaltim, Minggu (31/8) berhasil melakukan wawancara khusus dengan I Made Suarjana. Pria yang saat ini bekerja di sebuah perusahaan swasta di Balikpapan, Kalimantan Timur, pernah membantu Ann Dunham, ibu kandung Obama melakukan penelitian ketika berada di Indonesia. Berikut kisahnya yang diturunkan secara bertutur.
KETIKA itu saya menjadi wartawan Tempo di Biro Yogjakarta. Saya masuk Yogja sekitar tahun 1979 dan tahun 1987 saya mulai bekerja di Tempo. Setahun kemudian, tepatnya tahun 1988, ada seorang teman (almarhum Ami Priyono) menelepon saya.
Bung Ami ini adalah putra Prof Priyono. Terjun ke dunia film sejak tahun 1968. Ia juga dikenal sebagai penata seni dalam film Jampang Mencari Naga Hitam. Sebagai penata seni dia pernah memperoleh penghargaan melalui film Ambisi, di Festival Fim Indonesia (FFI) tahun 1974 di Surabaya.
Selama ini saya dan Bung Ami Priyono sudah sangat akrab. Setiap kali ke Yogjakarta, kami sering pergi melakukan diskusi bareng. Biasalah di Yogjakarta itu kalau enggak diskusi ya... makan-makan. Bahasa guyonannya, komunitas ini kita sebut sebagai komunitas seniman, meski kita bukan seniman. Jadi kita non seniman. Waktu itu ada Dhiman Abror (mantan Pemred Jawa Post) wartawan Tempo, Editor, ada Hariadi (wartawan Kompas) dan lain-lain.
Suatu ketika Bung Ami telepon saya dan mengatakan bahwa ada seorang teman dari Amerika mau melakukan penelitian. Dia meminta tolong agar temannya itu dibantu. Disertasinya tentang perajin pandai besi di Yogjakarta. Namanya waktu itu dikenal sebagai Ann Soetoro.
Ibu ini adalah istri dari Pak Soetoro. Saya sendiri enggak tahu siapa Pak Soetoro, karena memang saya tidak mengenal nama itu. Ketika beliau sudah tiba di Yogjakarta, saya menemuinya di Hotel Airlangga. Guest house itu kalau tidak salah, terletak di Jalan Prawiro Taman. Ketika kali pertama bertemu di hotel, saya memperkenalkan diri kepada Bu Ann. "Kenalkan, saya diminta oleh Bung Ami untuk menemui Ibu. Apa yang bisa saya bantu?"
Pertemuan itu terjadi sekitar tahun 1988. Dari sanalah kita diskusi macam-macam, diantaranya soal situasi dan kondisi sosial budaya di Yogjakarta. Dari obrolan itu, ternyata Bu Ann ini bukan kali pertama datang ke Yogjakarta. Ia sudah beberapa kali datang ke kota itu. Bahkan, beliau pernah tinggal di Ngasem.
Waktu itu bahasa Indonesia-nya sangat bagus dan fasih. Jadi tidak ada kesullitan dalam berkomunikasi. Karena saya ingin memperlancar bahasa Inggris, saya bilang ke ibu itu, "Saya tidak bisa menggunakan bahasa Inggris dengan bagus."
Kemudian saya mencoba berbicara dengan bahasa Inggris dan saya minta tolong dia kalau ada kekeliruan agar diperbaiki. Trus beliaunya juga bilang.. "Okey... kalau begitu saya juga berbahasa Indonesia. Tolong perbaiki bahasa Indonesia saya." Jadi... ketika itu kita ngomongnya gado-gado, campur-campur.
***
SAYA tidak ingat persis apa nama daerah yang dijadikan obyek penelitian Bu Ann. Yang jelas di daerah Gunung Kidul itu ada sebuah desa dan sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai perajin pandai besi. Mereka memproduksi alat-alat pertanian seperti cangkul, sabit dan lain-lain. Dan saya diminta Bu Ann untuk membantu mengantarkannya ke desa itu dan melakukan wawancara dengan perajin pandai besi, termasuk juga melihat dari dekat tungku apinya.
Bu Ann tahu, katanya, kalau di Yogjakarta, Jawa Tengah itu, wanita tidak boleh masuk ke tungku (dapur pengolahan biji besi). Kemudian beliau minta tolong saya agar bisa masuk sampai ke ruang produksinya, entah itu mengambil foto atau melakukan wawancara dengan para perajin.
Ternyata, saya juga baru tahu bahwa sebelum melakukan penelitian, Bu Ann rupanya lebih dahulu mempelajari kultur masyarakat setempat. Bahkan yang membuat saya angkat topi, beliau punya komitmen untuk tidak melanggarnya.
Tentu saja, sikap seperti itu rasanya rada berbeda dengan beberapa orang asing lainnya yang pernah saya lihat. Misalnya, di daerah saya di Bali, kan sudah ada larangan tidak boleh masuk Pura tanpa pakaian adat dan mereka nyelonong saja. Bu Ann ini bukan tipe seperti itu. Dia tipe wanita yang sangat menghargai budaya masyarakat setempat.
Ada kesan pertama yang saya tangkap dari beliau. Pertama, saya menangkap kesan bahwa beliau ini sosok keibuan. Ibu yang ramah, mau mendengar dan rendah hati. Padahal, waktu itu saat mau membuat disertasi untuk Phd-nya beliau sudah master. Tapi beliau bukan tipe wanita yang shok tahu. Dia benar-benar ramah.
Nah dalam setiap kali perbincangan, sangat tampak bahwa pengetahuan wanita itu sangat luas. Mungkin karena ketika kuliah dulu, dia mengambil antropologi di University of Hawaii, di Manoa. Di Hawaii itu kan ada beberapa pulau. Dan di Honolulu itu ada Universitas Hawaii, letaknya di Manoa. Pembimbingnya Profesor Alice Dewey, antropolog dari University of Hawaii. Dia juga pakar budaya Jawa dan diisertasinya yang cukup terkenal tentang Peasant Marketing in Java. (achmad subechi)