Eksotis Bersanding Bencana

Kompas.com - 01/09/2008, 15:16 WIB

DI pondokan sederhana yang disangga tiang-tiang kayu seukuran kaki orang dewasa, sejumlah orang sibuk mengepak barang di kardus. Kesibukan serupa terjadi di pondok-pondok kayu pengepul lobster di pesisir Sikakap, ibu kota Kecamatan Pagai Utara, Sumatera Barat.

Kesibukan semacam itu lazim terjadi ketika kapal motor perintis dari Padang bersandar tiga kali sepekan.

Barangkali, lobster-lobster yang Anda konsumsi berasal dari kawasan kepulauan di sisi barat daratan Sumatera itu. Letaknya sekitar 120 kilometer dari Padang. Kesibukan sore itu, lobster-lobster--sering disebut lobster bambu dan bintik/mutiara--akan dikirim ke Padang sekitar 12-15 jam perjalanan laut menggunakan kapal motor penyeberangan, tiga kali dalam sepekan.

Untuk menjaga tetap hidup, lobster-lobster itu ditaburi pasir putih sebelum dibungkus koran bekas dan ditata ke dalam kardus. Di sela tumpukan lobster, diletakkan es batu berbungkus koran. Tujuannya menghasilkan oksigen selama perjalanan.

Di tingkat pengepul, lobster bambu hidup dengan organ tubuh lengkap dihargai Rp250.000 per kilogram. Sementara itu, lobster bintik lebih mahal, Rp300.000 per kg. Harga itu bisa turun hingga Rp50.000 bila organ tubuh lobster ada yang patah.

Hasil laut Kepulauan Pagai bukan hanya lobster, melainkan ikan tongkol dan kepiting. Namun, pengepul lobster lebih menjamur di Sikakap.

Meskipun didera kerugian puluhan juta rupiah akibat gempa di Bengkulu, 12 September 2007, para pengepul menganggapnya sebagai risiko bisnis. Ketika itu, ratusan hingga ribuan lobster lepas karena gelombang tinggi menyapu perairan tenang itu.

Bukan hanya merobohkan rumah warga dan pondok-pondok panggung pengepul lobster, gelombang juga menyapu berliter-liter minyak nilam hasil penampungan dari warga di pedalaman.

Seperti halnya lobster, nilai jual minyak nilam terbilang tinggi, tetapi fluktuatif. Pada awal Juni 2008, harga per liter mencapai Rp 900.000.

Sebagian besar warga lokal Pagai, yang berprofesi sebagai petani, menggantungkan hidupnya dari hasil bumi. Nilam hanya salah satu primadona saat ini. Masih ada kakao, karet, kopra, dan cengkih.

"Harga nilam sedang bagus, jadi kami banyak menyuling nilam. Kalau per liternya kurang dari Rp 200.000, kami memilih yang lain saja," kata Toni Sababalat (57), warga Dusun Lakau, Pagai Selatan.

Hasil bumi lain adalah kopra. Karakteristik pulau banyak ditumbuhi pohon kelapa. Hanya, harga kopra kurang dari Rp 5.000 per kg, kalah menarik dibandingkan dengan minyak nilam.

Memetik dari alam

Hasil bumi penduduk pesisir pantai yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia itu secara turun-temurun menghidupi warga. Seluruhnya dipetik dari alam.

Sejauh ini potensi pariwisata laut Pagai belum digarap. Turis-turis asing yang sebagian besar merupakan atlet selancar rutin datang karena ”promosi” sesama atlet yang takjub dengan ombak besar di sejumlah pulau.

Keikutsertaan Kompas dalam Tim Ekspedisi Garis Depan Nusantara-Wanadri, awal Juni 2008, menguatkan bukti fenomena alam Pagai yang menakjubkan. Pulau kecil berpasir putih bersanding indah dengan terumbu karang di perairan bening, seperti di Pulau Sibarubaru.

Di Sikakap, yang notabene pusat perekonomian dan pendidikan, ikan-ikan hias menari-nari di perairan bening. Mereka seperti tak terganggu oleh berpasang-pasang mata yang memandanginya.

Kesadaran warga pulau terhadap bahaya bom ikan pun tinggi. Warga Dusun Limosua, Pagai Selatan, misalnya, beberapa kali mengusir nelayan pengebom ikan dari Sibolga, Sumatera Utara. "Kami usir mereka. Kalau perlu dengan kekerasan jika melawan," kata Elbi Samaloisa (50), warga Limosua.

Alam terus mencurahkan kemurahan bagi penduduk Mentawai, khususnya Pagai. Namun, alam pula yang mengabarkan bencana.

Pulau gempa

Sejumlah catatan sejarah dan kajian geologis menunjukkan, gugusan Kepulauan Mentawai--termasuk Pulau Pagai--merupakan "pulau gempa". Empat tahun terakhir, tiga gempa dahsyat mengguncang gugusan kepulauan itu.

Gempa juga mengangkat daratan antara 1 dan 1,5 meter dari titik puncak 3 meter. Kini setidaknya masih ada satu potensi besar gempa yang akan menaikkan daratan.

Di kawasan Pagai Selatan, fenomena daratan terangkat. Garis pantai maju hingga 500 dipenuhi hamparan karang mati seperti di Pulau Sibarubaru.

Warga di beberapa pulau kesulitan melaut atau merapatkan sampan karena karang menyembul ke permukaan, seperti di Desa Bulasat, Pagai Selatan. Di tengah sejarah dan perkiraan gempa dahsyat berikutnya itulah eksotisme Pagai berada.

Eksotisme alam juga ditunjukkan di kawasan Nias. Tim Ekspedisi Wanadri-Rumah Nusantara mendata kondisi di pulau-pulau terluar yang mereka singgahi.

Pulau ke-40 di wilayah barat berakhir di Pulau Senua, Natuna, 18 Agustus 2008. Banyak hal mereka jumpai, fakta keindahan dan potensi alam garis batas Tanah Air yang bersanding erat dengan berbagai keterbatasan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau