Survey IRDI: Nelayan Sampai Pengangguran Kepincut Megawati

Kompas.com - 01/09/2008, 17:41 WIB

JAKARTA, SENIN - Nama mantan Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri ternyata paling favorit di kalangan kaum wong cilik. Dari hasil survei yang dilakukan oleh lembaga poling Indonesia Research and Development Institute (IRDI) menunjukkan kalangan petani, nelayan sampai pengangguran kepincut dengan figur Megawati dari pada lima kandidat capres lain yang disurvei seperti Wiranto, Sri Sultan, Hidayat Nurwahid, Wapres Jusuf Kalla maupun Presiden SBY.
 
"Pendukung Presiden SBY hampir merata di semua kategori atau hampir semua golongan yang tersebar secara merata di Jawa, Bali, Sumatera, dan wilayah lain di Indonesia. Pendukung Megawati mayoritas dan terbesar di Jawa dan Bali dan banyak didukung oleh kaum nelayan, sampai pengangguran, " kata ketua IRDI Adrinof Chaniago kepada wartawan Senin (1/9).

Survei ini dilakukan dengan responden survei berjumlah 2600 orang yang tersebar di 33 Provinsi dan di 260 desa/keluarahan. Yang disurvey adalah mereka yang berumumur minimal 17 tahun atau sudah menikah. Jumlah laki-laki dan perempuan berbanding sama. Sebesar 57.3 pesen responden yang disurvei di daerah perkotaan dan 42. 7 persen yang disurvei di dasrah pedesaan dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Adrinof kemudian menjelaskan tentang figut Ketua MPR Hidayat Nur Wahid. Hidayat, jelasnya, memiliki dukungan dikalangan pendidikan tinggi dibandingkan kelompok pendidikan lainnya. Namun dukungan dari kelompok ini masih terlalu kecil untuk bisa membuatnya unggul. Faktor frekuensi kelompok berpendidikan tinggi relatif rendah, adalah salah satunya.

"Sementara figur Sri Sultan dan Jusuf Kalla, memiliki kelompok pendukung yang berbeda dengan lainnya. Pendukung kedua kandidat ini tidak merata untuk semua kategori. Pertarungan di 2009 nanti, tokoh yang muncul adalah yang memang memiliki bukti prestasi selama ini," ujarnya.

"Yang ada, tokoh saat ini, hanya popular,tingkat prestasinya tidak menonjol dan tidak akan dipilih masyarakat. Ada beberapa tokoh yang sudah memberikan bukti kerja selama ini. Tapi, ada juga yang belum terlihat kerjanya, baru sebatas iklan saja," Adrinof menjelaskan.

Menurutnya, tampil sebagai pemenang pada pertarungan di pemilu 2009, seorang calon presiden haruslah memiliki strategi tertentu. Misalnya, dengan menjelaskan pada publik siapa yang akan menjadi pendampingnya, susunan kabinet yang akan dibentuk serta program kerja yang akan dilakukan. Bila itu tidak dilakukan, Adeinof pesimis, masyarakat hanya akan diberikan mimpi-mimpi semata meski diakuinya hingga saat ini calon pemimpin masih langka.

"Masyarakat mendambakan pemimpin yang adil, jujur, professional serta mampu membuat perencanaan, memimpin kabinet, menjalankan tugas dan berwawasan luas. Hanya saja, hal yang menjadi masalah adalah masih langkanya calon pemimpin. Ini yang menjadi alasan utamanya. Dan PDIP memiliki peluang untuk meraih dukungan masyarakat ditengah dukungan masyarakat kepada SBY JK yang mulai turun," tegasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau