NAMANYA I Made Surjana. Ia pernah bekerja sebagai wartawan Tempo, Gatra dan RCTI. Lelaki asal Bali itu, kini menetap di Balikpapan dan bekerja di sebuah perusahaan swasta. Tak banyak yang tahu kalau Made, cukup akrab dengan keluarga Obama. Bagaimana ceritanya? Berikut penuturan kepada Tribun Kaltim.
AWALNYA, ketika di Yogjakarta, Bu Ann Dunham mau mengambil disertasi pertanian secara luas, selain pandai besi. Tapi kemudian beliau diminta oleh dosen pembimbingnya Profesor Alice Dewey, antropolog dari University of Hawaii, agar fokus ke sektor ekonomi pandai besi --antropologi ekonomi.
Selain melakukan riset untuk disertasinya, saya baru tahu kalau beliau adalah seorang konsultan Bank Rakyat Indonesia (BRI). Tugasnya adalah melakukan evaluasi terhadap Simpedes dan Kumpedes. Jadi beliau sering ke berkunjung ke daerah-daerah yang ada di Jawa, Bali dan Sulawesi. Saya belum pernah mendengar kalau ia pernah ke Kalimantan atau Sumatera.
Yang jelas beliau banyak melakukan evaluasi di Jawa, Bali dan Sulawesi.
Saya juga tahu bahwa ternyata beliau itu sebelumnya pernah bekerja di Pakistan di sebuah bank mirip Kumpedes. Karena itu Bu Ann tidak stay di satu tempat dengan tengang waktu cukup lama. Tetapi ada beberapa kali dia datang ke suatu tempat, sesuai dengan kebutuhannya. Kalau enggak salah seingat saya, dia pernah mengajak saya datang ke sebuah desa di Gunung Kidul, tiga atau empat kali untuk melakukan riset.
Bu Ann adalah tipe wanita yang kalau bekerja tidak mau setengah-setengah. Misalnya, ketika beliau berada di Hawaii dan kebetulan ada data penunjang yang kurang, beliau telepon saya sekedar meminta saya agar meng-update datanya. Untuk itu dia tak segan-segan meminta saya datang ke desa tempat dia melakukan penelitian.
Waktu itu, saya disuruh mengambar peta desa. Dan saya cari data itu ke Pak Lurah setempat. Mungkin karena saya wartawan, ya... agak mudah mencari sesuatu yang dibutuhkannya. Sebenarnya saya bukan 'asisten' dia. Saya hanya membantu Bu Ann karena ada rekomendasi dari Bung Ami Priyono.
Saat dia masih berada di Indonesia, saya sering mengadakan pertemuan. Kami kerap berdiskusi. Dan yang menjadi konsen Bu Ann adalah tentang emansipasi wanita dalam pengertian bukan sesama derajat, tetapi bagaimana kontribusi kaum perempuan terhadap perekonomian keluarga.
Ketika saya ceritrakan bahwa di Bali kaum perempuannya ikut bekerja dan rata-rata tidak mau menganggur hanya untuk menunjang ekonomi keluarga, beliau sangat terkesan sekali. Dan suatu hari dia datang ke Bali untuk melakukan riset. Sebelumnya dia juga pernah bertanya kepada saya. "Apa benar laki-laki Bali seperti itu? (tidak mau bekerja)." Mendapat pertanyaan itu saya akhirnya menjelaskan secara logika saja berdasarkan pengalaman-pengalaman yang saya lihat di desa saya.
Saya katakan kepada dia, lelaki Bali itu, sebelum ayam berkokok mereka sudah pergi ke sawah. Mereka baru pulang setelah matahari telah bersinar, sekitar pukul 09.00 pagi. Nah, setelah itu para petani pulang ke rumahnya, duduk di depan rumah. Sedangkan, istrinya pagi-pagi sudah menyiapkan makanan buat sang suami yang baru pulang ari sawah.
Sementara orang lain melihat, lelaki Bali, kok pagi-pagi masih nongkrong di rumah. Mereka ternyata tidak tahu bahwa pukul 04.00, mereka sudah bekerja berangkat ke sawah. Saya dulu juga begitu. Jam 04.00 pagi sudah membawa bebek ke sawah. Tapi, karena stigma itu sudah begitu melekat saya tidak bisa menjelaskan di luar logika saya. Dan Bu Ann, akhirnya memahami penjelasan saya.
***
DI Indonesia Bu Ann kerap bergaul dengan para intelektual di bidang pemberdayaan perempuan. Dan orang yang sering disebut namanya adalah Prof Dr Saparinah Sadli. Dia adalah Ketua Komisi Nasonal Anti Kekerasan terhadap Perempuan. Ada juga rekan Bu Ann bernama Carla Bianpoen dan Yulia Suryakusuma. Yulia adalah istrinya Bung Ami Priyono. Kalau enggak salah Yulia lebih dulu mengenal Bu Ann, dibanding suaminya.
Seingat saya, Bu Ann juga cukup dikenal di kalangan tokoh antropolog Indonesia. Beliau mengagumi Prof Dr Selo Sumardjan, sebagai teman diskusi. Dan teman dekatnya lagi adalah Umar Kayam. Pak Umar Kayam, lahir di Ngawi, Jawa Timur, 30 April 1932, merupakan seorang sosiolog, novelis, cerpenis, dan budayawan berkebangsaan Indonesia.
Beliau kebetulan pada tahun 1963 mendapatkan beasiswa dari East-West Center, Hawaii. Jadi hubungan antara Umar Kayam dengan Bu Ann, sudah terjalin sejak di Hawaii. Karena itu kalau ke Yogjakarta, Bu Ann selalu singgah di kantornya Pak Kayam, Pusat Studi Kebudayaan di Bulak Sumur.
Biasanya, kalau Bu Ann tiba dari Hawaii, kita ngobrol di kantornya Pak Umar Kayam. Bahkan, saat Pak Kayam dapat pengukuhan gelar profesor dari UGM, Bu Ann juga hadir dan sangat memuji pidatonya Pak Kayam. Mereka dengan Pak Kayam sudah seperti kakak-beradik dan sangat akrab sekali. Ketika di Hawai, Pak Kayam itu sering diundang ayahnya Bu Ann untuk main catur bareng.
Mungkin kalau ditanya peranan beliau di Indonesia tidak terlalu tampak. Tetapi interaksinya dengan kalangan intelektual di Indonesia, para aktivis gerakan perempuan sangat dekat. Dia sangat peduli dengan peningkatan peranan wanita dalam ekonomi keluarga. Ia pernah mengatakan kepada saya bahwa dirinya sangat prihatin dengan kaum perempuan yang terpinggirkan. Tapi karena dia bukan tokoh LSM, maka ia tidak langsung action.
Dari pemikirannya, dari diskusi-diskusinya dan dari artikel-artikelnya, tampak sekali bagaimana beliau sangat konsen terhadap perempuan Indonesia. Bahkan sebelum kembali ke Amerika akhir tahun 1994, beliau tercatat sebagai konsultan di kementrian pemberdayaan perempuan. sebelumnya, dia juga pernah bekerja setahun di New York di Women's Work Bank. Kalau enggak salah, dia jadi kepala program.
Dari ceritanya juga, ketika awal awal tinggal di Indonesia, diajak Pak Soetoro (suaminya), beliau pernah menceritakan pengalamannya mengajar bahasa Inggris di Prasetya Mulya dan para pesertanya rata-rata pejabat. Nama yang sempat saya ingat disebut beliau, kalau enggak salah adalah Amir Mahmud. Saya sendiri baru tahu kalau dia pernah ngajar di Prasetya Mulya saat ngobrol tentang sepak terjangnya di Indonesia. (achmad subechi)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang