Beda Nama, Turun di Jalan

Kompas.com - 02/09/2008, 14:23 WIB

SURABAYA, SELASA — Menteri Perhubungan (Menhub) Jusman Safeii Djamal mengatakan, penumpang kereta api (KA) eksekutif yang namanya tidak sesuai dengan nama pada tiket akan diturunkan di tengah jalan. Jusman mengaku telah memerintahkan Direksi PT KA melakukan pengecekan tiket di tengah perjalanan.

Menurut Jusman, pengecekan tiket di perjalanan bertujuan untuk mengikis praktik percaloan pada penjualan tiket KA. Dengan pengecekan tersebut, penumpang KA yang membeli tiket lewat calo dapat dikenali. ”Jika nama di tiket tidak sama dengan identitas seperti pada KTP atau SIM, maka penumpang tersebut diberi opsi untuk turun di stasiun berikutnya atau membayar tiket sesuai dengan harga yang berlaku,” kata Jusman.

Saat ini, pembeli tiket KA mudik dimungkinkan membeli paling banyak empat tiket. Menurut Jusman, nama di tiket-tiket tersebut harus sama dengan nama pada KTP atau SIM salah satu pemegang tiket.

”Selama ini kita mengawasi dan membatasi gerak-gerik calo tiket. Namun, mulai H-7 hingga H+7, saya instruksikan Direksi PT KA melakukan penertiban atau pemeriksaan tiket KA selama perjalanan,” kata Jusman di sela peresmian penerbangan kembali Citilink di Bandara Internasional Juanda, Surabaya, Senin (1/9) siang.   

Lebih jauh Jusman mengatakan, pengecekan tiket dilakukan oleh kondektur. ”Kami minta penumpang berpartisipasi mengawasi kondektur. Jika ada kondektur yang melakukan penyimpangan, mohon diingatkan atau dicatat identitasnya dan dilaporkan ke Departemen Perhubungan. Nanti kami sediakan saluran khusus untuk menerima laporan dari masyarakat tentang angkutan Lebaran,” ujarnya.

Sebelumnya, Dirut PT KA Ronny Wahyudi mengatakan, tiket yang sudah dibeli tak bisa dikembalikan. Menurut Ronny, pengembalian tiket oleh calo jumlahnya lebih besar dibanding pengembalian oleh penumpang. Bila penumpang mengembalikan tiket karena berhalangan berangkat, calo mengembalikan tiket karena tidak laku.

Pada Senin petang, aparat intel Polda Metro Jaya menangkap Mohammad Ikhsan alias Mamat (43) yang diduga calo tiket KA di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat. Mamat ditangkap saat menawarkan tiket kepada seorang anggota Intelkam Polda Metro Jaya yang menyamar menjadi calon pemudik.

Mamat kemudian dibawa ke Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polda Metro Jaya untuk diproses lebih lanjut. Warga Slipi, Jakarta Barat, itu mengaku sudah empat tahun jadi calo. Untuk mendapatkan tiket, dia membayar orang untuk antre di loket dengan imbalan Rp 50.000. Mamat kemudian menjual tiket tersebut lebih mahal Rp 150.000 daripada harga di loket.

Polisi menyita tiket KA Gumarang jurusan Surabaya bagi dua orang untuk keberangkatan tanggal 29 September. Selain itu, didapatkan pula tiga tiket Argo Anggrek (Surabaya), tiga tiket Argo Lawu (Solo), dan dua tiket Taksaka (Yogyakarta).

Tiket tambahan

Sementara itu, dari 12.040 tiket KA tambahan, pada Senin (1/9) sore tinggal sepertiganya. Sejumlah calon pemudik datang ke stasiun dan memesan tiket KA tambahan dan mengesampingkan tiket KA reguler.

Slamet (41), karyawan swasta, mengaku datang ke Stasiun Gambir setelah membaca berita tentang tiket tambahan. ”Saya baca di koran ada tambahan kereta Sawunggaling, saya ke sini. Untung masih dapat. Seandainya kehabisan, saya mau naik motor saja,” tutur warga Ciracas, Jakarta Timur, itu Senin siang. Slamet membeli tiket kelas eksekutif untuk tanggal keberangkatan 27 September seharga Rp 200.000.

Kepala Humas PT KA Daop I Jakarta Akhmad Sujadi mengatakan, tiket tambahan tersisa sekitar 30 persen. Tiket yang paling laku adalah tiket untuk tanggal keberangkatan 26-29 September. Sedangkan tiket tanggal 1 Oktober masih tersedia dalam jumlah banyak.

Sementara itu, pemesanan tiket KA tujuan Jakarta (arus balik) dilayani mulai Selasa (2/9) ini. Pemesanan berlaku untuk 30 hari mendatang. Jadi, pemudik yang ingin kembali ke Jakarta pada 3 Oktober, bisa pesan tiket pada Rabu (3/9). ”Tiket arus balik bisa dipesan di Jakarta. Kalau mudik sudah punya tiket PP (pulang pergi), kan lebih aman,” kata Sujadi, kemarin.

Seperti diberitakan, PT KA menambah perjalanan KA mudik, di antaranya KA Argo Lawu (Solo) selama 21-30 September dan Kamandanu (Semarang, 26-30 September). Tiket kereta tambahan itu dijual sejak Minggu (31/8). Rencananya, KA Gajayana dan KA Sembrani juga akan mendapat penambahan jadwal perjalanan.

Wakil Kepala Stasiun KA Pasarsenen, Taviv SJ, mengatakan tiket lima KA tambahan yang dijual sejak Minggu, pada hari Senin telah ludes. Kelima KA tambahan yang tiketnya dijual di Stasiun Pasarsenen adalah KA Argolawu, Kamandanu, Sawunggaling, Senja Utama Solo, dan Cirebon Ekspress.

Taviv juga mengatakan, tiket beberapa KA reguler baik kelas bisnis maupun eksekutif untuk keberangkatan H-2 dan H-1 tersisa sekitar 2.000 tiket. ”Mungkin masyarakat tertuju pada KA tambahan sehingga tak menyadari bahwa tiket KA reguler masih tersedia,” katanya. Menurutnya, tiket KA reguler tersebut bisa dipesan baik di Stasiun Pasarsenen maupun Gambir dan 10 agen tiket di Jakarta. Pantauan Warta Kota kemarin, pemesanan tiket KA eksekutif di Stasiun Senen tidak seramai hari  Minggu (31/9).

Transaksi yang terjadi adalah pemesanan untuk keberangkatan H-10 hingga H-8 yang relatif longgar. ”Kami sekeluarga maunya mudik pada H-9. Tiket untuk H-9 masih tersisa banyak. Jadi enggak ada kesulitan,” ungkap Yasmin, pembeli tiket KA di Stasiun Pasars Senen.

Sedangkan di Stasiun Gambir, calon pemudik menjejali tiga loket pemesanan tiket sejak Senin pagi. Panjang antrean di setiap loket mencapai 15 meter. Kondisi tersebut terus berlangsung hingga menjelang loket tutup pada Senin petang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau