JAKARTA, RABU - Rupiah pada Rabu (3/9) pagi, berada di posisi Rp 9.200 per dollar AS. Direktur Utama PT Finance Corpindo, Edwin Sinaga di Jakarta, mengatakan, Bank Indonesia (BI) harus mewaspadai pergerakan rupiah, karena posisi mata uang Indonesia saat ini mulai mengkhawatirkan. "Apabila BI tidak masuk pasar dengan melepas cadangan dollarnya dikhawatirkan rupiah akan terus terpuruk lebih jauh," katanya.
BI, menurut dia, harus melakukan langkah yang lebih cepat di pasar melihat tekanan pasar baik internal maupun eksternal cukup kuat seperti inflasi yang tinggi yang menimbulkan kekhawatiran bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia melemah.
"Menguatnya dollar AS di pasar global juga mendorong pelaku lokal mengikuti pelaku asing membeli dollar AS dan melepas rupiah, sehingga mata uang AS menguat tajam di pasar domestik," katanya.
Pemerintah sendiri berusaha melakukan penerbitan obligasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi namun sambutan pasar cenderung melemah, apalagi perbankan sedangkan aktif melakukan aksi jor-joran menawarkan suku bunga deposito di atas suku bunga lembaga penjaminan 8,75 persen.
"Karena itu, tekanan pasar terhadap rupiah yang semakin kuat itu dinilai wajar sehingga mendorong mata uang Indonesia merosot tajam," katanya.
Rupiah, lanjut dia, kemungkinan akan bisa mencapai angka Rp 9.250 per dollar AS pada sore nanti, apabila BI tidak masuk pasar untuk mengantisipasi tekanan pasar, sehingga rupiah tidak terpuruk lebih jauh.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang