JAKARTA, RABU - Apakah yang terjadi pada industri gula nasional sehingga Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla mengundang khusus lima menteri kabinet, dirut bank BUMN, Kepala BKPM dan Deputi Menko serta dirut PT Perkebunan Nusantara serta jajaran stafnya rapat di kediaman dinasnya Rabu (3/9) malam?
Seorang ajudan menteri berkomentar apakah terjadi kiamat sehingga rapat tentang gula harus digelar malam ini juga setelah shalat tarawih? "Kenapa tidak besok pagi atau siang atau sore ya," tanya ajudan menteri tersebut, saat ditanya Kompas di halaman rumah dinas Wapres, Rabu malam.
Ajudan menteri lainnya membenarkan sembari berjalan dari mobil dinas menteri yang diparkir berjajar di halaman depan rumah dinas Wapres Kalla. Namun, sumber Kompas lainnya di kalangan pergulaan menceritakan bahwa rapat diadakan karena situasinya bisa gawat, khususnya yang terjadi pada para petani tebu beberapa hari ini di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
"Petani tebu sudah marah dengan merembesnya gula rafinasi untuk industri ke pasar sehingga gula produksi petani tebu harganya menjadi murah. Mereka sudah beberapa kali berdemo dan membakar kebun tebunya serta membuang-buang gula rafinasi serta menginjak-injaknya," ujar sumber tersebut.
Sumber lain malah menambahkan bahwa kalau pemerintah tidak segera mengambil langkah tindakan dengan kelebihan pasokan gula rafinasi tersebut, maka disebut-sebut para petani akan berdemontrasi besar-besaran di Jakarta. "Karena itu, pemerintah segera mengambil keputusan untuk mencegahnya," tambah sumber itu lagi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang