Memburu Timun Suri di Awal Ramadan

Kompas.com - 04/09/2008, 12:46 WIB

BANYAK variasi makanan khas yang menjadi hidangan pembuka kala buka puasa tiba. Timun suri salah satunya. Buah ini umumnya menjadi bahan campuran untuk minuman dingin yang manis. Menawarkan kesegaran sebagai pelepas dahaga jika sudah berujud es campur atau pun koktail buah yang terasa sedap disajikan saat buka puasa.
    
Tingginya minat masyarakat terhadap buah ini sudah dibaca oleh kalangan petani. Mereka telah menggarap serius media tanam tiga bulan sebelum Ramadan. Jika waktunya sudah tiba, timun suri pun menjadi primadona.
    
Menurut Iyas Darsono (58), petani asal Desa Warungkadu, Pasawahan, waktu tiga bulan cukup untuk mendapatkan buah yang matang dan siap makan. Asalkan perawatan rutin terus dilakukan.
    
Iyas hanya menebar benih timun suri di lahan seluas 1.000 meter persegi. Modal yang diperlukan, katanya, bisa mencapai Rp 4 juta. Uang segitu sudah termasuk ongkos olah tanah dan pemupukan. Dia hanya menanam timun suri sekali dalam setahun, di lahan miliknya yang terletak di Desa Ciparungsari, Kecamatan Campaka.
    
”Bibitnya kami olah sendiri dari buah-buahan hasil panen tahun lalu. Kalau tanamannya bagus, bisa keluar hasil sampai 4 ton. Tapi sekarang ini paling dapat setengahnya,” ungkapnya, Minggu (31/8).
    
Untuk menambah keuntungan, Iyas tak menjual hasil panennya kepada tengkulak. Adiknya, Acim (36), yang mendapat tugas untuk memasarkan. Menggelar lapak di pinggir jalan kampung di Desa Warungkadu, Pasawahan.
    
Saat ini, kata Acim, jika masih awal Puasa harga timun suri masih tinggi. Dia menjualnya seharga Rp 2.500 per kilogram untuk partai besar. Jika eceran, pembeli bisa membawa pulang buah itu dengan membayar Rp 3.000 per kilogramnya.
                                

***

PAMOR timun suri yang naik selama Ramadan membuat banyak pedagang tak ingin melewatkan kesempatan mendulang rezeki dari timun suri. Nurwali (33) misalnya, pedagang buah yang menggelar lapak dekat Stasiun Purwakarta, mengaku berburu timun suri hingga ke Bekasi.
    
Dia memborong buah itu dari Rawagabus, Bekasi. Banyak bandar di sana, tapi pembelinya juga lebih banyak. Jadi siapa yang berani beli harga tinggi, dia yang bakal dapat barangnya.
    
Menurut dia, harga timun suri di tingkat bandar saat ini antara Rp 1.800-Rp 2.000, tergantung kualitas buahnya. Dengan mempertimbangkan ongkos transpor, dia menjualnya seharga Rp 2.500 per kilogram untuk partai besar. ”Harganya naik drastis, sebelumnya paling kisaran Rp1.000-Rp1.200 per kilogram. Saya hanya mengambil 3,5 ton, sembari lihat-lihat situasi lebih dulu,” katanya.
    
Meski begitu, masih banyak pembeli yang memborong timun suri di tempatnya untuk dijual lagi. Yanto (23) salah satunya. Warga Kelurahan Cipaisan, Purwakarta itu memborong 10 kilogram timun suri dari tempat Nurwali. ”Saya kemarin mencari sampai ke Karawang, tapi belum ada yang jual. Ketemunya malah di sini,” katanya. (Ichwan Chasani)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau