BANYAK variasi makanan khas yang menjadi hidangan pembuka kala buka puasa tiba. Timun suri salah satunya. Buah ini umumnya menjadi bahan campuran untuk minuman dingin yang manis. Menawarkan kesegaran sebagai pelepas dahaga jika sudah berujud es campur atau pun koktail buah yang terasa sedap disajikan saat buka puasa.
Tingginya minat masyarakat terhadap buah ini sudah dibaca oleh kalangan petani. Mereka telah menggarap serius media tanam tiga bulan sebelum Ramadan. Jika waktunya sudah tiba, timun suri pun menjadi primadona.
Menurut Iyas Darsono (58), petani asal Desa Warungkadu, Pasawahan, waktu tiga bulan cukup untuk mendapatkan buah yang matang dan siap makan. Asalkan perawatan rutin terus dilakukan.
Iyas hanya menebar benih timun suri di lahan seluas 1.000 meter persegi. Modal yang diperlukan, katanya, bisa mencapai Rp 4 juta. Uang segitu sudah termasuk ongkos olah tanah dan pemupukan. Dia hanya menanam timun suri sekali dalam setahun, di lahan miliknya yang terletak di Desa Ciparungsari, Kecamatan Campaka.
”Bibitnya kami olah sendiri dari buah-buahan hasil panen tahun lalu. Kalau tanamannya bagus, bisa keluar hasil sampai 4 ton. Tapi sekarang ini paling dapat setengahnya,” ungkapnya, Minggu (31/8).
Untuk menambah keuntungan, Iyas tak menjual hasil panennya kepada tengkulak. Adiknya, Acim (36), yang mendapat tugas untuk memasarkan. Menggelar lapak di pinggir jalan kampung di Desa Warungkadu, Pasawahan.
Saat ini, kata Acim, jika masih awal Puasa harga timun suri masih tinggi. Dia menjualnya seharga Rp 2.500 per kilogram untuk partai besar. Jika eceran, pembeli bisa membawa pulang buah itu dengan membayar Rp 3.000 per kilogramnya.