Sarkozy Mainkan Peran di Timur Tengah

Kompas.com - 04/09/2008, 18:38 WIB

DAMASKUS, KAMIS - Presiden Prancis Nicolas Sarkozy bersama pemimpin Syria, Turki, dan Qatar bertemu untuk mengarahkan dan mempromosikan perdamaian dan stabilitas atas kekacauan di Timur Tengah.  

 

 

Diskusi yang diadakan di ibu kota Syria, Kamis (4/9), dilaksanakan sehari lebih cepat. Diskusi ini didasari pertemuan empat mata antara Sarkozy dan Presiden Suriah Bashar Assad, yang selanjutnya akan membahas prospek perdamaian antara Suriah dan musuh bebuyutannya Israel.  

 

Sarkozy menawarkan bantuan dari Prancis untuk mensponsori berbagai negoisasi ketika waktunya tiba.  

 

Hasil pertemuan Kamis ini diharapkan untuk ditindaklanjuti dalam pertemuan selanjutnya dan membicarakan isu regional lainnya dengan partisipasi dua pemain penting regional yang lain. Turki telah menjadi mediator dalam pembicaraan Israel-Syria selama lebih dari setahun, dan Qatar merupakan negara teluk yang menjadi kunci menyelesaikan konflik Palestina-Israel.  

 

Kunjungan Sarkozy ke Damaskus itu adalah yang pertama kali dilakukan pemimpin barat dalam tiga tahun terakhir, yang juga setuju menghentikan pengaruh Iran di Syria.

Prancis, Turki dan Qatar merupakan negara sekutu Amerika Serikat yang secara nyata mengkritik Damaskus. Hasil pertemuan Kamis ini untuk mengarahkan pemerintahan Assad dan mengonsolidasi peringatan international terhadap Suriah. Sebagai tambahan atas pengaruh kekuasaannya, Prancis merupakan pemimpin bagi negara Uni Eropa dan Qatar merupakan kepala dari dewan kerja sama negara teluk. Turki,  berbatasan dengan Syria dan Iraq, memiliki hubungan yang baik dengan Israel.        

 

Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan, dan pemimpin Qatar, Syeh Hamad bin Khalifa Al Thani, ikut pertemuan dengan Assad dan Sarkozy di Istana Presiden di puncak bukit al-Shaab.

Mereka berempat diperkirakan mendiskusikan stabilitas regional dan prospek perdamaian Arab-Israel.  

 

Assad selaku tuan rumah pertemuan empat arah pada hari kedua dalam kunjungan Sarkozy ke negara arab ini, menjadi penggagas dalam era baru hubungan bilateral, setelah beberapa tahun dalam kerenggangan.  

 

Rabu kemarin, Sarkozy menghadiri pembicaraan bilateral dengan Assad dan menyatakan mendukung pembicaraan langsung antara Syria dan Israel. "Ini sangat penting dan sudah waktunya bagi Suriah dan Israel untuk bicara langsung sesegera mungkin, untuk membangun kedamaian yang dibutuhkan di kedua negara tersebut," kata Sarkozy ketika jumpa pers bersama Assad.  

 

Suriah menginginkan pengembalian secara utuh Dataran Tinggi Golan, kawasan strategis yang direbut Israel dalam perang 1967. Pembicaraan Suriah-Israel gagal di tahun 2000 karena ketidaksepakatan soal batas penarikan mundur dari Golan.

Sarkozy menekankan, Suriah bisa berperan dalam membujuk sekutunya, Iran, agar bekerjasama dalam mengakhiri permusuhannya dengan barat soal program nuklirnya. Sarkozy juga ingin menarik Suriah dari lingkaran pengaruh regional Iran.  

 

"Iran seharusnya tidak memiliki senjata nuklir. Senjata nuklir di Iran adalah ancaman bagi kedamaian regional dan dunia. Setiap orang, dengan cara masing-masing, harus menyampaikan pesannya," kata Sarkozy.  

 

Assad, yang beberapa waktu lalu mengunjungi Teheran tetapi gagal untuk meyakinkan Iran mengenai persoalan nuklir, akan melanjutkan diskusi bersama Iran dan Prancis.  

 

"Kami berharap menemukan resolusi dari problem ini. Tak ada satu pun di dunia ini yang dapat menerima akibat yang besar dari berbagai resolusi yang tak mendukung perdamaian karena ini akan menjadi sebuah bencana," kata Assad. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau