DAMASKUS, KAMIS - Presiden Prancis Nicolas Sarkozy bersama pemimpin Syria, Turki, dan Qatar bertemu untuk mengarahkan dan mempromosikan perdamaian dan stabilitas atas kekacauan di Timur Tengah.
Diskusi yang diadakan di ibu kota Syria, Kamis (4/9), dilaksanakan sehari lebih cepat. Diskusi ini didasari pertemuan empat mata antara Sarkozy dan Presiden Suriah Bashar Assad, yang selanjutnya akan membahas prospek perdamaian antara Suriah dan musuh bebuyutannya Israel.
Sarkozy menawarkan bantuan dari Prancis untuk mensponsori berbagai negoisasi ketika waktunya tiba.
Hasil pertemuan Kamis ini diharapkan untuk ditindaklanjuti dalam pertemuan selanjutnya dan membicarakan isu regional lainnya dengan partisipasi dua pemain penting regional yang lain. Turki telah menjadi mediator dalam pembicaraan Israel-Syria selama lebih dari setahun, dan Qatar merupakan negara teluk yang menjadi kunci menyelesaikan konflik Palestina-Israel.
Kunjungan Sarkozy ke Damaskus itu adalah yang pertama kali dilakukan pemimpin barat dalam tiga tahun terakhir, yang juga setuju menghentikan pengaruh Iran di Syria.
Prancis, Turki dan Qatar merupakan negara sekutu Amerika Serikat yang secara nyata mengkritik Damaskus. Hasil pertemuan Kamis ini untuk mengarahkan pemerintahan Assad dan mengonsolidasi peringatan international terhadap Suriah. Sebagai tambahan atas pengaruh kekuasaannya, Prancis merupakan pemimpin bagi negara Uni Eropa dan Qatar merupakan kepala dari dewan kerja sama negara teluk. Turki, berbatasan dengan Syria dan Iraq, memiliki hubungan yang baik dengan Israel.
Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan, dan pemimpin Qatar, Syeh Hamad bin Khalifa Al Thani, ikut pertemuan dengan Assad dan Sarkozy di Istana Presiden di puncak bukit al-Shaab.
Mereka berempat diperkirakan mendiskusikan stabilitas regional dan prospek perdamaian Arab-Israel.
Assad selaku tuan rumah pertemuan empat arah pada hari kedua dalam kunjungan Sarkozy ke negara arab ini, menjadi penggagas dalam era baru hubungan bilateral, setelah beberapa tahun dalam kerenggangan.
Rabu kemarin, Sarkozy menghadiri pembicaraan bilateral dengan Assad dan menyatakan mendukung pembicaraan langsung antara Syria dan Israel. "Ini sangat penting dan sudah waktunya bagi Suriah dan Israel untuk bicara langsung sesegera mungkin, untuk membangun kedamaian yang dibutuhkan di kedua negara tersebut," kata Sarkozy ketika jumpa pers bersama Assad.
Suriah menginginkan pengembalian secara utuh Dataran Tinggi Golan, kawasan strategis yang direbut Israel dalam perang 1967. Pembicaraan Suriah-Israel gagal di tahun 2000 karena ketidaksepakatan soal batas penarikan mundur dari Golan.
Sarkozy menekankan, Suriah bisa berperan dalam membujuk sekutunya, Iran, agar bekerjasama dalam mengakhiri permusuhannya dengan barat soal program nuklirnya. Sarkozy juga ingin menarik Suriah dari lingkaran pengaruh regional Iran.
"Iran seharusnya tidak memiliki senjata nuklir. Senjata nuklir di Iran adalah ancaman bagi kedamaian regional dan dunia. Setiap orang, dengan cara masing-masing, harus menyampaikan pesannya," kata Sarkozy.
Assad, yang beberapa waktu lalu mengunjungi Teheran tetapi gagal untuk meyakinkan Iran mengenai persoalan nuklir, akan melanjutkan diskusi bersama Iran dan Prancis.
"Kami berharap menemukan resolusi dari problem ini. Tak ada satu pun di dunia ini yang dapat menerima akibat yang besar dari berbagai resolusi yang tak mendukung perdamaian karena ini akan menjadi sebuah bencana," kata Assad.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang