BEIJING, KAMIS - Sebanyak 27 orang tewas dan enam lain cedera Kamis dalam ledakan tambang batubara di China timurlaut, kata media pemerintah. Ledakan itu merupakan musibah terakhir yang melanda industri pertambangan China yang sejauh ini dikenal berbahaya.
Ledakan gas itu terjadi di sebuah tambang di kota Fuxin di provinsi Liaoning, salah satu daerah penghasil batubara utama di China, kata seorang pejabat bernama Li di biro keselamatan kerja lokal Fuxin.
Kantor Berita Xinhua mengatakan, 27 orang dipastikan tewas setelah petugas penyelamat menemukan mayat tiga pekerja terakhir yang sebelumnya dinyatakan hilang, dan enam orang lain cedera.
Ledakan itu terjadi pada Kamis pagi ketika 41 orang sedang bekerja di tambang itu, kata Xinhua. Menurut kantor berita resmi itu, 14 orang behasil menyelamatkan diri setelah ledakan tersebut, dan keenam orang yang cedera termasuk diantara kelompok itu.
Penyelidikan masih dilakukan untuk mengetahui penyebab kecelakaan tersebut, kata laporan itu. Tambang-tambang batubara di China termasuk paling berbahaya di dunia, dimana standar keselamatan seringkali diabaikan demi keuntungan dan tuntutan untuk memenuhi permintaan yang meningkat bagi kebutuhan batubara -- sumber dari sekitar 70 persen energi di negara itu.
Hampir 3.800 orang tewas di tambang-tambang batubara China tahun lalu, menurut angka resmi pemerintah, namun para pemantau independen mengatakan bahwa jumlah kematian sesungguhnya lebih tinggi karena banyak kecelakaan yang ditutup-tutupi.
Pejabat keselamatan tempat kerja di China mengatakan pada Januari, korupsi dan tindakan yang tidak layak telah menjadi faktor utama tingginya jumlah kematian di tambang batubara China.
"Pengaruh korupsi dan kekuatan dagang demi uang masih ada di sejumlah kecil pegawai pemerintahan," kata Li Yizhong, Menteri Urusan Keselamatan Kerja, kepada wartawan ketika diminta memberikan penjelasan mengenai kecelakaan-kecelakaan itu.
Masalah itu diperburuk dengan manajemen pertambangan yang kacau dan kesadaran keselamatan yang rendah di kalangan pekerja, katanya. "Alasan lain... adalah kurangnya pendidikan dan pelatihan dari 5,5 juta pekerja tambang batubara, yang 56 persen diantaranya adalah pekerja migran," tambah Li.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang