Jelang Pemilu, Pedagang Atribut Banjir Order

Kompas.com - 05/09/2008, 05:15 WIB

JAKARTA, JUMAT - Menjelang pemilu pesanan atribut partai politik mulai meningkat. Sekitar 100 pedagang atribut partai di Blok I lantai 1 dan 2 bekas Matahari, Senen, Jakarta Pusat mulai kebanjiran pesanan. Tampaknya pembagian atribut serta pengerahan massa masih mendominasi model kampanye partai di Indonesia.  

 Toko Ampera salah satunya. Toko di lantai 2 tersebut mulai kebanjiran order untuk kampanye politik baik Pilkada, ataupun kampanye Calon Legislatif di daerah. Toko yang telah berbisnis atribut partai selama 17 tahun tersebut juga menjual berbagai seragam seperti satpan dan kaos olah raga. Namun atribut partai yang tinggi penjualannya.  

Aat (27) salah seorang karyawan mengatakan ia hanya menerima pesanan minimal 500 buah dan semuanya dapat dikerjakan dalam waktu dua hari. "Berapa pun pesanan kita siap," ujarnya.  

Segala jenis atribut partai dijual mulai dari kaos, bendera, jas, rompi, stiker, pin, topi, payung, bola, kerudung, hingga batik partai. Untuk harga tergantung dari bahan yang digunakan. Seperti kaos dijual dengan harga Rp7 ribu Rp8 ribu, bendera sekitar Rp4 ribu Rp80 ribu, kemeja Rp35 ribu, topi Rp5 ribu hingga 11 ribu, stiker Rp 50 ribu per 100 lembar.  

Aat mengatakan penjualan atribut untuk pemilu kali ini jauh meningkat dibanding pemilu lalu. Faktornya adalah jumlah partai yang lebih banyak dibanding pemilu lalu. Selain itu desain atribut untuk pemilu kali ini jauh lebih menarik dan kebanyakan partai politik memiliki banyak desain untuk menarik massa.  

Mendekati pemilu ini omzetnya sekitar Rp5 juta perhari hanya untuk penjualan atribut partai saja. Bahkan jika sedang banyak order omzetnya naik drastis hingga Rp100 juta perhari. Bulan lalu ada Caleg Golkar yang pesen 10 ribu atribut. "Kurang lebih dia habis Rp100 jutaan lah," ujarnya.  

Menurutnya kebanyakan pesanan berasal dari partai-partai besar seperti Golkar, PDIP, serta Demokrat namun dari partai baru pun tidak kalah banyak. "Sekarang lagi banyak pesanan dari Hanura untuk kampanye di daerah ," ujarnya.  

Kebanyakan para pedagang di Blok I memiliki stok atribut seperti kaos dan bendera dari berbagai partai untuk pesanan mendadak. Para pedagang biasanya memesan kaos dan bendera langsung dari pabriknya di Bandung. Sedangkan untuk pembordiran dan penyablonan atribut seperti topi, kemeja, rompi serta atribut lain dilakukan sendiri.  

Namum Aat mengatakan memasuki bulan puasa ini pesanan sedikit menurun lantaran jarang partai yang melakukan kampanye. Bulan Agustus kemarin ramai. "Ntar habis puasa mulai ramai lagi sampai pemilu tahun depan," ujarnya Aat. Dari pengalaman pemilu 2004 biasanya pesanan mulai naik drastis dua bulan menjelang pemilu.  

Lain lagi Agus (35) yang juga pedagang atribut partai. Ia mengatakan omzetnya juga meningkat menjelang pemilu tahun depan. "Selama puasa ini sih pesanan yang paling banyak kerudung dengan sablon lambang partainya," ujarnya.  

Dalam sehari ia mengaku mendapat order sekitar 500 hingga 1000 atribut. Kebanyakan untuk saat ini pesanan datang dari daerah seputar Jawa seperti Brebes, Cirebon, Tegal, dan daerah lain. "Yang udah langganan tinggal kirim desain lewat email trus kirim uang ke rekening kita nanti kita kirim kesana," ujarnya. Namun bagi yang belum memiliki desain ia mengatakan siap membuat desain tanpa biaya.

M15-08

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau