Agus Condro Diberhentikan, PDI-P "Cuci Tangan"

Kompas.com - 05/09/2008, 10:42 WIB

Laporan wartawan Kompas.com Inggried Dwi Wedhaswary

JAKARTA, JUMAT - Pengamat hukum Andi Irmanputra Sidin menilai, pemberhentian yang dilakukan PDI Perjuangan (PDI-P) terhadap kadernya Agus Condro, sebagai upaya untuk menutupi dan 'cuci tangan' atas dugaan praktek korupsi yang terjadi di tubuh partai. Seharusnya, partai membuka diri sebesar-besarnya untuk turut mengusut pengakuan yang disampaikan Agus. Apalagi juga menyebut sejumlah nama kader lainnya.

"Seharusnya partai membantu membuka sebesar-besarnya aliran dana dari Agus Condro. Bukan malah dihukum dengan di-PAW seperti sekarang. Bisa jadi partai mau 'cuci tangan' atas persoalan itu. Apa yang dilakukan partai saat ini adalah tindakan beringas," kata Irman di Gedung DPD, Jakarta, Jumat (5/9).

Ia menyayangkan, adanya tindakan pemberhentian terhadap kader yang akan membuka kebobrokan partai karena penyakit korupsi. Idealnya, para whistle blower seperti Agus mendapatkan perlindungan efektif. "Sekarang ini, Agus itu kan di partai tidak ada perlindungan, di KPK juga dijepit. Dan akhirnya begini terus. Siapa yang berani membongkar untuk kasus korupsi kalau begini?," ujar dosen Universitas Indonesia Esa Unggul ini.

KPK pun dalam pandangan Irman lamban menindaklanjuti pengakuan Agus Condro. Seharusnya KPK pro aktif dan cepat merespons apa yang disampaikan anggota Komisi II DPR itu. Bahkan, untuk membersihkan partai politik dari kotoran korupsi, KPK bisa melakukan 'big sale'.

"Kalau saja KPK bilang, menjelang 2009 kita akan big sale untuk orang-orang seperti Agus Condro, saya pikir akan banyak yang keluar (memberikan kesaksian). Bisa saja big sale itu dengan memberikan tuntutan bebas atau lebih ringan. Dengan begitu, parpol akan terbuka dan bersih dari kotoran korupsi," ujar Irman.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau