Beli Mobil Bekas Jangan Cuma Dilihat

Kompas.com - 05/09/2008, 14:52 WIB

JIKA Anda punya niat beli mobil bekas untuk keperluan mudik Lebaran ke kampung halaman, jangan tergiur dengan bodi mobil yang mulus. Apalagi kendaraan yang diincar bukan tahun muda, katakanlah tahun pembuatan di bawah tahun 2000.

Untuk mengecek semua komponen, tentu tak cukup selesai satu hari. Ketika mesin di starter, tokcer, dan digas antara 2.000 dan 3.000 rpm tidak berebet. Apakah calon pembeli sudah cukup puas? Ditambah kondisi bodi agak mulus.

Metode itu belum cukup. Perlu dicoba tes jalan, dari situ bisa diketahui kondisi rem dan laju mobil. Dengan mengenali gejala penyakit umum ini, tentu bisa dijadikan bahan pertimbangan sekaligus persiapan dana untuk perbaikan jika memang ingin membelinya.


1. Setir bergetar pada kecepatan tertentu 

Umumnya, penyakit ini disebabkan roda depan sudah tidak balans. Jika getaran itu juga dirasakan di bangku driver,  kemungkinan roda belakang juga tidak balans. Jadi, balanskan keempat roda.

2.Ketika melindas gundukan, mobil memantul lebih dari dua kali
Kondisi ini lebih sulit dideteksi jika kecepatan melindas gundukan terlalu pelan. Coba gunakan kecepatan antara 10 km/jam sampai 15km/jam untuk melindas gundukan berikutnya. Bila ayunan berulang kali, disebabkan keausan atau kerusakan sokbreker. 
Anda bisa memeriksa kondisi fisiknya setelah test drive.  Dengan mengganti sokbreker baru dengan kisaran harga Rp 1-2 juta, masalah ini bisa tuntas. 

3.Sejak kecepatan rendah, mobil terasa bergoyang
Jika Anda merasakan goyang bodi selaras dengan setir, bisa jadi salah satu pelek roda depan sudah peyang. Namun jika pelek roda belakang yang peyang, biasanya goyangan begitu terasa jika duduk di bangku belakang.
Untuk menyelesaikan masalah ini, Anda bisa mereparasi pelek dengan biaya sekitar Rp 150 ribu per piece.  Usai test drive,  tak ada salahnya Anda mengecek juga kondisi pelek ban serep. Penyebab lainnya, salah satu roda tidak terpasang dengan baik akibat adanya baut roda yang kurang kencang.

4. Ketika jalan lurus, posisi setir tidak lurus
Kemungkinan setir pernah dilepas dan ketika pemasangan kembali, posisi roda kemudi tidak lurus. Sehingga tidak selaras dengan arah ban. Kemungkinan lain adalah masalah sudut-sudut keselarasan roda. Dengan melakukan wheel alignment   (spooring) di bengkel, masalah ini bisa dihilangkan.

Tapi jika Anda mengajak mekanik, sebaiknya cek pula komponen sistem kemudi. Terutama jika gejala ini muncul setelah Anda melindas gundukan atau lubang jalan. Indikator lainnya yakni kondisi keausan tapak ban yang tidak merata. Jika ini yang terjadi, perbaikan sistem kemudi bisa menelan biaya besar.

5. Ketika setir dilepas, mobil cenderung mengarah ke salah satu sisi.
Bisa juga pergeseran mobil, kekiri atau kekanan lantaran kemiringnan jalan. Untuk memastikan, periksa semua tekanan angina.
Pergeseran mobil terjadi di jalanan yang rata, perlu dilakuakn wheel alignment di bengkel. Terburuknya, disebabkan konstruksi sistem kemudi mengalami kerusakan dan harus dibawa ke bengkel.

6. Muncul suara berdengung dari roda.
 Penyebabnya ada dua, bisa karena desain kembang ban yang cukup besar. Jenis ini biasanya untuk medan off-road
Coba periksa kondisi ban depan dengan meraba bagian pinggir tapaknya secara perlahan dalam dua arah. Namun hati-hati jika ada benang baja yang sudah keluar atau benda tajam lain. Ketika diraba ke satu arah terasa mulus, tapi saat berbalik arah Anda mendapati kembang ban lebih tajam atau kasar, kondisi ini bisa menimbulkan dengung.
Penyebab lain ban mendengung, kondisi laher roda yang kurang bagus, suaranya tidak sekeras dengung akibat kembangan ban yang besar. Tapi cukup mengganggu kuping. (Ary Damarjati)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau