Laporan Wartawan Kompas Suhartono
JAKARTA, JUMAT - Pemerintah dalam merundingkan kembali kontrak penjualan gas alam cair atau LNG Tangguh ke Fujian, China akan menerapkan strategi saling membutuhkan. Pemerintah Indonesia tidak akan menggunakan cara ancam mengancam untuk memaksakan kepentingannya.
"Kita akan berangkat dengan saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Jadi tidak perlu ada ancam mengancam. Beijing sudah sangat terbuka mengenai perundingan ulang kontrak gas di proyek Tangguh tersebut," ujar Wapres usai menerima rombongan delegasi Sekretaris Partai Komunis China di Istana Wapres, Jakarta, Jumat (5/9).
Wapres menyatakan keyakinannya terhadap sikap pemerintah China yang akan merespons positif rencana perundingan tersebut. "Karena mereka juga yakin Indonesia dan China saling membutuhkan. Apalagi kondisi sekarang ini sudah jauh berbeda dengan perundingan pada tahun 2002 lalu," ujar Kalla.
Diakui Wapres, memang tidak mudah untuk mengubah kontrak yang sudah dipatok tersebut. Namun, Wapres percaya keterbukaan China akan membuka jalan kesepakatan kontrak yang baru.
Tentang pertemuan dengan delegasi Partai Komunis China, Wapres Kalla mengaku sama sekali tidak membicarakan perihal kontrak gas Tangguh. Alasannya, selain kontrak Tangguh diputuskan oleh pemerintah China, bukan oleh Partai Komunis China, Kalla juga menganggap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kemarin sudah membicarakan masalah tersebut.
"Yang jelas pemerintah Indonesia siap, China juga siap untuk duduk di meja perundingan kembali," kata Kalla.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang