Mitos-mitos Cinta yang Keliru

Kompas.com - 06/09/2008, 12:07 WIB

HARAPAN pasangan suami istri terhadap rumah tangga mereka sering kali terlalu tinggi dan tidak realistis sehingga malah membuat hubungan terganggu.

John W Jacobs, MD dalam bukunya All Your Need is Love and Other Lies about Marriage menunjukkan beberapa mitos salah yang biasa menghiasi kehidupan berumah tangga:

1. Cinta adalah segala-galanya
Pandangan ini jelas sudah kuno, dan hanya ada di dongeng 1.001 malam. Kenyataannya, cinta tak bersyarat hanya tersedia untuk bayi dan anak kecil, dan tak pernah sukses untuk kehidupan suami istri. Banyak orang yang mendatangi konsultan perkawinan dan mengeluh, "Kami ini saling cinta setengah mati, tapi kenapa kami enggak bahagia ya?"

Mitos bahwa cinta yang romantis saja cukup untuk menciptakan perkawinan yang bahagia hanya membuat orang tak mampu mengembangkan dan menyiapkan hubungan yang sehat. Cinta bukanlah segala-galanya dan tak selalu bisa menyelesaikan masalah dalam rumah tangga. Anda butuh banyak keterampilan lain untuk menciptakan pernikahan yang bahagia.

2. "Dia enggak pernah mau dengerin sih, padahal saya sudah berbusa-busa."
Benar, kita memang sudah ngomong sampai berbusa-busa, tapi tak pernah bisa menyampaikan maksud kita secara cerdas. Kenyataan menunjukkan, tak banyak pasangan yang tahu bagaimana harus bicara atau mendengar secara efektif. Tayangan talk show di teve menampilkan para pakar perkawinan yang selalu menyarankan agar setiap pasangan "mau mengatakan apa adanya" dan "jujur sejujur-jujurnya" sehingga pasangan tahu apa yang kita rasa dan butuhkan. Padahal, bicara jujur sejujur-jujurnya belum tentu pas. Banyak pasangan yang malah menyalahgunakan kejujuran versi mereka untuk memojokkan atau memaksa pasangannya "tunduk".

Ingat, gaya komunikasi perempuan dan laki-laki sangat berbeda, dan itu yang seharusnya mendasari komunikasi antarpasangan. Persoalan komunikasi sering kali menyembunyikan perbedaan pasangan dalam hal nilai, minat, tujuan, dan keinginan. Bahkan, sekalipun suami istri sudah ikut kursus "cara berkomunikasi yang baik" toh mereka sering kali terkejut ketika mendapati adanya perbedaan-perbedaan yang sangat susah dicari solusinya tadi. Jadi, melatih komunikasi bukanlah satu-satunya solusi. Itu hanya langkah awal.

3. "Dia enggak pernah mau berubah"
Banyak pasangan yang mengaku bersedia berubah demi keutuhan rumah tangganya, tapi yang terjadi sebetulnya adalah mereka ingin pasangan merekalah yang berubah. Banyak yang percaya tak ada perkawinan yang bisa berubah kecuali dilakukan oleh kedua pihak, suami istri. Pandangan salah ini berakibat terhambatnya upaya memperbaiki kualitas hubungan.

Yang terjadi sebetulnya adalah kebanyakan pasangan mencoba mengubah hubungan dengan cara yang tidak produktif sehingga frustrasi pada hasilnya, dan akhirnya mengklaim pasangannya memang susah berubah. Padahal, seandainya setiap pasangan mau benar-benar berubah, mereka bisa kok menciptakan rumah tangga yang bahagia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau