Jumlah Kursi di Sejumlah Dapil Bermasalah

Kompas.com - 06/09/2008, 12:46 WIB

JAKARTA, SABTU - Sejumlah daerah pemilihan (dapil) bermasalah karena jumlah kursi legislatif daerah yang diperebutkan berubah-ubah.

Hal ini dilontarkan Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Bambang Eko Cahyono dalam diskusi mingguan di Jakarta, Sabtu (6/9). "Ini adalah masalah yang cukup serius bagi masyarakat, tapi tak banyak yang memperhatikan namun akan jadi masalah besar untuk parpol," ujar Bambang.

Tanpa mau menyebutkan jumlah dapil maupun perubahan jumlah kursi di dapil-dapil tersebut, Bambang mengatakan masalah-masaah ini terjadi di salah satu dapil di Sulawesi Utara dan beberapa dapil di Nusa Tenggara Timur (NTT). Salah satu dapil di Sulut, jumlah kursinya berkurang sehingga berpotensi menimbulkan konflik antarparpol. Sedangkan di NTT karena pemekaran, terdapat dapil yang jumlah kursinya tetap namun di dapil lain bertambah.

"Yang harusnya tidak (bertambah) karena jumlah penduduknya berkurang, tapi ini tidak. Akibatnya APBD akan dibebani oleh jumlah anggota DPRD yang tetap itu, padahal sudah dikurangi oleh jumlah anggota DPRD yang (di daerah yang) dipecah tersebut," ujar Bambang.

Menurut Bambang, masalah yang paling sering adalah dapil yang jumlah kursinya naik turun. Keseluruhan masalah ini disebabkan sikap KPU yang mengambil langkah aman mengikuti UU. "Bahwa dapilnya sama dengan dapil 2004 padahal terjadi perubahan-perubahan termasuk jumlah penduduk, termasuk perubahan wilayah. Nah antara dapil harus konsisten jumlah penduduk, kepadatan penduduk dan kondisi geograafis wilayah itu," kata Bambang.

Saat ini, Bawaslu sedang berkoordinasi dengan Panwaslu untuk merekap dapil-dapil bermasalah. "Masalah itu (di Sulut dan NTT), karenakita kebetulan melakukan supervisi dan pada penetapan dapil kebetulan kita berada di lapangan dan kita melihat ada problem-problem itu," ujar Bambang. (LIN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau