JAKARTA, SABTU - Pemecatan yang dilakukan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) terhadap kadernya di DPR RI Agus Condro dinilai sudah tepat. Kalau tidak maka orang-orang seperti Agus Condro akan banyak bermunculan.
"Langkah PDIP memecatnya sudah tepat karena dianggap telah melanggar etika yakni menerima uang suap. Kejujurannya sudah terlambat dan tidak ada gunanya. Kenapa tidak dari awal menerima uang dia langsung membeberkannya, kok baru sekarang," ujar Arbi Sanit, pengamat politik dari UI, ketika dihubungi Persda Network, Sabtu (6/9).
Menurutnya, walaupun belum ada putusan hukum mengenai bersalah tidaknya Agus Condro yang mengaku telah menerima dana Rp 500 juta dari Deputi Senior Gubernur BI, partai bisa memberikan sanksi kepada anggotanya yang dianggap telah melanggar aturan partai.
Menjawab apakah PDIP juga perlu memberikan sanksi kepada anggota F-PDIP yang disebut Agus juga ikut menerima dana dari Miranda, Arbi Sanit mengatakan itu urusan KPK untuk menyelidikinya bukan partai.
"Silakan KPK melakukan penyelidikan atas pengakuan Agus Condro itu," katanya. Menurut Arbi, banyak politisi di DPR yang tidak memahami mana yang benar dan mana yang salah. Seperti Agus Tjondro yang telah bertahun-tahun menerima dana "suap" tapi tidak merasa bersalah.
"Tiba-tiba dia menyuarakan kebenaran dan ingin jadi pahlawan. Padahal dia sama saja brengseknya, bertahun-tahun diam saja lalu tiba-tiba membongkar boroknya sendiri. Kenapa dari dulu dia tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kok logikanya baru jalan sekarang ini," ujarnya.
Ditanya apakah ada dibelakangnya sehingga berani buka-bukaan untuk tujuan menjatuhkan partai misalnya, Arbi Sanit berpendapat kemungkinan itu sangat kecil terjadi.
"Kalaupun ada, lalu berapa banyak yang dia dapat. Pasti lebih tinggi dari Rp 500 juta. Apa ada yang mau memberinya lebih tinggi dari itu. Saya kira Agus ini kan hanya maling teriak maling, yang mencoba sok jadi pahlawan," kata Arbi Sanit.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang