YANGON, MINGGU - Pemerintah Myanmar menekankan bahwa tidak ada indikasi pemimpin oposisi yang menjalani masa tahanan rumah, Aung San Suu Kyi, melancarkan aksi mogok makan. Sementara menurut partai politik pimpinannya, Suu Kyi (63) telah menolak mengkonsumsi makanan yang diantar ke kediamannya sekitar 3 pekan terakhir untuk menentang penahanan yang dialaminya.
"Selama sebulan terakhir, Suu Kyi telah dijinkan menemui pengacaranya 3 kali dan sekali dengan dokter pribadinya," kata kepala kepolisian Myanmar, Mayor Jenderal Khin Yi. "Selama 4 kali pertemuan itu dan berdasarkan informasi yang disampaikan ke pemerintah oleh pengacara dan dokternya, tidak ada indikasi yang menunjukkan Suu Kyi mogok makan."
Khin Yi tidak menanggapi permohonan yang diajukan oleh partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), Jumat (5/9), terhadap junta Mianmar untuk menjamin keamanan dan kesejahteraan Suu Kyi. Dalam pernyataan tersebut, NLD menyampaikan keprihatinannya terhadap penindasan yang dialami oleh Suu Kyi.
Selain menentang penahanannya, Suu Kyi memprotes pengekangan terhadap 2 sahabat wanita yang menetap bersamanya dan membantunya merawat kediamannya yang berada di tepi sebuah danau. Kedua rekan Suu Kyi itu belakangan tak diijinkan meninggalkan kediaman pemimpin NLD itu.
Salah satu sahabat Suu Kyi, Win Ma Ma (45), harus menjalani perawatan di rumah sakit karena gangguan kesehatan di perutnya. Suu Kyi, yang telah dikekang kebebasannya oleh junta Mianmar lewat tahanan rumah, selama ini bertahan hidup dengan bergantung pada bantuann makanan yang dikirim ke kediamannya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang