WINA, SENIN - Dengan harga minyak yang menurun hampir 30 persen dari angka tertinggi hampir 150 dollar AS per barrel, organisasi eksportir minyak OPEC mempertimbangkan aksi yang tak terpikirkan beberapa pekan sebelumnya. Hal yang tak terpikirkan itu pemotongan kuota produksi untuk menggairahkan harga minyak mentah.
Langkah itu tak pernah terbayangkan saat harga minyak yang melambung tinggi kembali merosot Juli lalu. Pertimbangan pemotongan kembali kuota produksi akan menjadi opsi dari rapat 13 menteri perminyakan OPEC di markasnya di Wina, Selasa (9/9).
Sejak menembus angka 147,27 dollar AS per barrel pada 11 Juli lalu, harga minyak dunia kemudian merosot hingga lebih dari 40 dollar AS atau lebih dari 27 persen. Hal yang perlu diperhatikan OPEC saat berencana kuota produksi adalah argumentasi AS dan konsumen minyak terkemuka lainnya bahwa kuota produksi perlu dipertahankan untuk mengakhiri lonjakan harga minyak.
Para menteri perminyakan OPEC menekankan argumentasinya bahwa suplai minyak telah cukup untuk memenuhi permintaan sehingga kuota produksi perlu diturunkan. OPEC justru menuduh spekulator serta melemahnya nilai dollar AS (greenback) sebagai penyebab lonjakan harga minyak.
Namun, saat ini greenback telah menguat dan permintaan minyak dunia menurun akibat lesunya ekonomi dunia dan surutnya minat pelaku pasar bertransaksi di komoditas ini. Kontrak pengiriman minyak mentah light sweet untuk bulan Oktober menurun 1,66 dollar AS per barrel dan ditutup pada 106,23 dollar AS per barrel atau terendah sejak awal April lalu pada Jumat (5/9) pekan lalu di New York Mercantile Exchange.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang