Anak Gemuk, Awas Penyakit Lever!

Kompas.com - 08/09/2008, 11:11 WIB

KEGEMUKAN atau obesitas adalah problem kesehatan yang sedang ngetren di negara-negara maju. Bahkan problem kegemukan sekarang ini bukan hanya melanda kaum dewasa, tetapi juga anak-anak dan remaja usia belasan tahun.

Yang mencemaskan, sejumlah laporan penelitian dan kasus terbaru mengindikasikan problem obesitas pada anak-anak makin nyata terutama di negara-negara maju.  Laporan dan hasil wawancara Associated Press, Senin (8/9) misalnya mengindikasikan, anak-anak pengidap obesitas cenderung rentan mengalami kerusakan pada organ hati (lever) akibat tumpukan lemak pada tubuhnya. 

Akibat kerusakan tersebut, beberapa di antarnya membutuhkan transplantasi lever untuk menyambung hidup. Dan yang mencengangkan, banyak di antara mereka kemungkinan harus menjalani transplantasi organ hati saat memasuki usia 30 hingga 40-an.  Fenomena ini, kata para ahli, menuntut dokter anak untuk lebih mewaspadai ekses dari obesitas.

Penelitian mencatat, kasus penyakit lever yang dapat menyebabkan sirosis, gagal lever atau kanker hati,  kini mulai banyak ditemukan pada anak-anak di negara-negara maju seperti AS, Eropa, Australia dan bahkan di beberapa negara berkembang.

American Liver Foundation dan data riset lainnya mencatat sekitar  2 hingga 5 persen anak di Amerika Serikat di atas usia 5 tahun hampir semuanya mengalami obesitas. Mereka mengidap kondisi yang disebut penyakit lever kegemukan non-alkoholik (nonalcoholic fatty liver disease/NAFLD).

“Itu adalah kondisi yang seringkali  menyebabkan penyakit lever,” kata Dr. Ronald Sokol,  direktur kebijakan publik American Liver Foundation dan ahli penyakit hati dari Children’s Hospital dan Universitas  Colorado Denver.

Para ahli memperkirakan sekitar 10 persen anak-anak dan 50 persen anak obes mengalami mengidap NAFLD.  Namun, hanya sedikit saja dari mereka yang terdeteksi melalui tes darah sederhana di laboratorium, karena hanya dengan tindakan biopsi para dokter dapat memastikan diagnosa penyakit ini.

Merusak lever
Ketika lemak mulai menumpuk dalam tubuh, liver bisa mengalami peradangan dan terluka seiring dengan waktu. Ini bisa menimbulkan sirosis,  atau kondisi serius yang dalam beberapa tahun terakhir paling banyak disebabkan hepatitis atau kebiasaan meminum terlalu banyak alkohol. Kegagalan lever atau kanker hati juga bisa muncul setelahnya, tetapi bila sirosis belum terjadi, penyakit NAFLD dapat diatasi melalui penurunan berat badan.

NAFLD adalah kondisi yang banyak ditemukan pada anak-anak obes dengan perut buncit disertai gejala peringatan tertentu seperti diabetes, kolesterol atau penyakit jantung. Namun begitu, NAFLD juga dapat muncul pada beberapa anak dengan berat badan normal.

Faktor genetika, diet dan kebiasaan olahraga juga memberi peran penting bagi tercetusnya kondisi ini.  Prevalensi NAFLD tercatat lebih tinggi di kalangan anak laki-laki ketimbang perempuan. Kaum hispanik juga tercatat paling tinggi prevalensinya, dan relatif jarang di kalangan Afro-Amerika.

Para ahli menilai obesitas adalah masalah sangat serius yang harus segera diatasi. Dengan penyakit lever kegemukan yang semakin banyak ditemukan di kalangan dewasa, mereka diperkirakan problem obesitas akan menjadi penyebab utama transplantasi liver pada 2020 mendatang. 

“Ada pasien yang pada usia 30 atau awal 40-an membutukan transplantasi lever akibat  mengidap penyakit NAFLD sejak anak," ungkap Dr. Jose Derdoy, kepala transplantasi liver Cardinal Glennon Children’s Medical Center di St. Louis memprediksi fenomena penyakit lever akibat obesitas.

Ia sendiri pernah menangani  transplantasi lever seorang anak oberitas berusia 15 tahun asal Texas yang telah divonis mengalami sirosis.  Derdoy juga pernah menangani banyak anak lainya yang mengidap problem sama.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau