SBY Kumpulkan Pembantunya Permasalahkan Benih

Kompas.com - 08/09/2008, 14:35 WIB

JAKARTA, SENIN - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumpulkan para pembantunya untuk membahas permasalahan benih dan pupuk untuk kebutuhan petani dan upaya meningkatkan ketahanan pangan di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (8/9).

Dalam sepekan terakhir, isu soal benih padi sedang marak, terutama setelah kegagalan panen benih padi Supertoy HL-2 yang dialami petani di daerah. Rapat antara lain dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Widodo AS, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sri Mulyani, Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie, Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa, Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi, Menteri Pertanian Anton Apriantono, dan Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman.

Sejumlah menteri terkait juga hadir berikut sejumlah Staf Khusus Presiden Yudhoyono. Sejumlah staf khusus yang hadir adalah Andi Mallarangeng, Dino Patti Djalal, dan Sardan Marbun. Staf khusus bidang pembangunan dan otonomi daerah Heru Lelono tak terlihat.Heru Lelono adalah staf khusus yang memperkenalkan benih padi Supertoy HL-2 kepada Presiden Yudhoyono.

Karena benih Supertoy HL-2, Presiden Yudhoyono didampingi Ny Ani Yudhoyono datang ke Purworejo, Jawa Tengah untuk panen raya, April 2008. Purworejo adalah kampung halaman Ny Ani Yudhoyono karena ayahnya, Sarwo Edhie Wibowo berasal dari Purworejo.

"Agenda kita tunggal, membahas permasalahan benih dan pupuk baik pengadaan dan distribusinya. Di berbagai kesempatan saya sampaikan, kecukupan pangan adalah prioritas utama kita," ujar Presiden mengawali rapat.

Rapat yang dijadwalkan pukul 13.00 baru dimulai pukul 13.40. Sebelumnya, Presiden dan Wapres bertemu di ruang kerja Presiden.

Supertoy HL-2 adalah benih padi yang ditemukan Tuyung Supriyadi. Toy adalah inisial namanya sementara HL adalah inisiasl Heru Lelono. Supertoy HL-2 dikembangkan oleh PT Sarana Harapan Indopangan dimana Heru menjadi Komisaris Utama.

Selain berhubungan di Istana, Presiden dan Heru berhubungan dalam organisasi yang sama yaitu Gerakan Indonesia Bersatu (GIB). Di GIB, Yudhoyono adalah Ketua Dewan Pembina sementara Heru adalah Sekretaris Umum. Sama seperti ketika kasus Blue Energy, rapat kabinet digelar menyusul kisruh tentang proyek yang diperkenalkan Heru Lelono kepada Presiden.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau