Laporan wartawan Kompas.com Inggried Dwi Wedhaswary
JAKARTA, SENIN - Salah satu korban insiden Monas, M. Guntur Romli, bersaksi dalam persidangan kasus insiden Monas dengan terdakwa Munarman di PN Jakarta Pusat, Senin (8/) sore.
Dalam kesaksiannya, Guntur mengaku melihat Munarman di lokasi insiden dengan jarak 10 meter dari dirinya. Guntur memastikan bahwa pria yang mengenakan pakaian serba hitam dan ikat kepala berwarna hitam itu adalah Munarman, Panglima Komando Laskar Islam. Ia mendengar, Munarman berteriak "maju-maju" dan menggiring massa melakukan penyerangan.
"Saya melihat wajahnya. Saya tahu bahwa itu adalah terdakwa (Munarman), dari tahi lalat di sebelah kiri dan matanya yang menyalang (melotot). Walaupun terdakwa memakai ikat kepala berwarna hitam. Saya melihat dia menggiring massa, dan melihat dia mencekik seseorang yang belakangan diketahui orang itu adalah anak buahnya. Saya mendengar terdakwa teriak, 'maju-maju'," kata aktivis Aliansi Kebangsaan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) ini.
Setelah itu, aku Guntur, suasana semakin riuh dengan teriakan para perempuan dan teriakan kesakitan dari para korban. Namun, Guntur tak melihat Munarman melakukan pemukulan terhadap siapapun. Guntur sendiri mengalami luka di bagian wajahnya. Luka itu, kata dia, akibat terkena bambu runcing yang dipukulkan oleh massa FPI. "Di ujung bambu runcing itu ada bendera berlambang FPI," katanya.
Saksi lainnya, Suci Swesti Sabaria tak menyelesaikan kesaksiannya karena mengaku trauma dan tak sanggup memberikan keterangan lagi. Sebelumnya, Suci mengatakan bahwa ia menjadi korban penyerangan dan mengalami luka di kepala bagian belakang. "Teman saya bernama Oming juga menjadi korban penyerangan. Dia mengalami gegar otak," kata Suci. Saat ditanya apakah ia melihat Munarman, Suci mengatakan ia tak melihat Munarman. (ING)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang