Guntur Romli : Saya Dengar Munarman Teriak "Maju-maju!"

Kompas.com - 08/09/2008, 17:15 WIB

Laporan wartawan Kompas.com Inggried Dwi Wedhaswary

JAKARTA, SENIN - Salah satu korban insiden Monas, M. Guntur Romli, bersaksi dalam persidangan kasus insiden Monas dengan terdakwa Munarman di PN Jakarta Pusat, Senin (8/) sore.

Dalam kesaksiannya, Guntur mengaku melihat Munarman di lokasi insiden dengan jarak 10 meter dari dirinya. Guntur memastikan bahwa pria yang mengenakan pakaian serba hitam dan ikat kepala berwarna hitam itu adalah Munarman, Panglima Komando Laskar Islam. Ia mendengar, Munarman berteriak "maju-maju" dan menggiring massa melakukan penyerangan.

"Saya melihat wajahnya. Saya tahu bahwa itu adalah terdakwa (Munarman), dari tahi lalat di sebelah kiri dan matanya yang menyalang (melotot). Walaupun terdakwa memakai ikat kepala berwarna hitam. Saya melihat dia menggiring massa, dan melihat dia mencekik seseorang yang belakangan diketahui orang itu adalah anak buahnya. Saya mendengar terdakwa teriak, 'maju-maju'," kata aktivis Aliansi Kebangsaan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) ini.

Setelah itu, aku Guntur, suasana semakin riuh dengan teriakan para perempuan dan teriakan kesakitan dari para korban. Namun, Guntur tak melihat Munarman melakukan pemukulan terhadap siapapun. Guntur sendiri mengalami luka di bagian wajahnya. Luka itu, kata dia, akibat terkena bambu runcing yang dipukulkan oleh massa FPI. "Di ujung bambu runcing itu ada bendera berlambang FPI," katanya.

Saksi lainnya, Suci Swesti Sabaria tak menyelesaikan kesaksiannya karena mengaku trauma dan tak sanggup memberikan keterangan lagi. Sebelumnya, Suci mengatakan bahwa ia menjadi korban penyerangan dan mengalami luka di kepala bagian belakang. "Teman saya bernama Oming juga menjadi korban penyerangan. Dia mengalami gegar otak," kata Suci. Saat ditanya apakah ia melihat Munarman, Suci mengatakan ia tak melihat Munarman. (ING)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau