JAKARTA, SENIN - Kasus aliran dana Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI) milik Bank Indonesia semakin menguak keterlibatan orang-orang baru. Namun, semakin lama kasus ini justru semakin melebar.
Seperti yang terjadi saat ini perhatian masyarakat, tak lagi tertuju pada tiga terdakwa kasus tersebut Burhanuddin Abdullah, Oey Hoey Tiong, dan Rusli Simanjuntak. Masyarakat justru lebih tertarik kepada dugaan keterlibatan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Anwar Nasution.
Hal ini diungkapkan oleh peneliti Indonesian Corruption Watch (ICW), Febridiansyah kepada Kompas.com. Menurut dia, Anwar seolah menjadi tumbal dari oknum yang sebenarnya memiliki kontribusi lebih banyak pada pengambilan dana YPPI ke DPR dan sejumlah mantan serta pejabat BI.
"Kasus ini kan mulai melebar, dengan adanya Anwar nasution di belakang semua ini. Fakta bahwa Anwar terlibat memang itu memang harus ditelusuri. Tapi kita harus fokus ke permasalahan utama. Ini penting, jangan sampai jaksa dan hakim terseret pada bias kasus tersebut. Saat ini, Anwar seolah untuk menutupi Aulia Pohan, sebab besan SBY itu yang memiliki andil lebih besar dari Anwar," ujar Febridiansyah ketika dihubungi, di Jakarta, Senin (8/9).
Menurut dia, peran Aulia dalam kasus ini lebih besar. Itu terbukti pada saat proses perbincangan di beberapa rapat dewan gubernur. Selain itu, ICW meyakini ide tersebut muncul dari ayahanda Annisa Pohan. Hal tersebut, lanjutnya, terungkap dari alat bukti dan fakta di persidangan. Selain itu, Aulia lah yang mengetahui dan menyetujui proses pencairan dan desiminasi uang Rp100 miliar itu. Oleh karena itu, Komisi Pemberantasan Korupsi harus segera mengusut keterlibatan Aulia Pohan. "Aulia ini kan susah, merupakan tantangan bagi KPK. Sebab, dia orang terdekat dengan lingkaran istana. Kalau yang lainkan lebih mudah dalam mengusutnya," tukasnya.
Namun, tutur Febri, jangan sampai ini dipolitisasi. Seperti yang diketahui Aulia merupakan kerabat dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Apalagi saat ini upaya-upaya untuk menjatuhkan orang untuk berebut kursi nomor satu di Indonesia pada Pemilu 2009, sudah semakin dekat.(BOB)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang