ICW: Kasus BI Harus Kembali ke Aulia Pohan

Kompas.com - 08/09/2008, 17:47 WIB

JAKARTA, SENIN - Kasus aliran dana Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI) milik Bank Indonesia semakin menguak keterlibatan orang-orang baru. Namun, semakin lama kasus ini justru semakin melebar.

Seperti yang terjadi saat ini perhatian masyarakat, tak lagi tertuju pada tiga terdakwa kasus tersebut Burhanuddin Abdullah, Oey Hoey Tiong, dan Rusli Simanjuntak. Masyarakat justru lebih tertarik kepada dugaan keterlibatan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Anwar Nasution.

Hal ini diungkapkan oleh peneliti Indonesian Corruption Watch (ICW), Febridiansyah kepada Kompas.com. Menurut dia, Anwar seolah menjadi tumbal dari oknum yang sebenarnya memiliki kontribusi lebih banyak pada pengambilan dana YPPI ke DPR dan sejumlah mantan serta pejabat BI.

"Kasus ini kan mulai melebar, dengan adanya Anwar nasution di belakang semua ini. Fakta bahwa Anwar terlibat memang itu memang harus ditelusuri. Tapi kita harus fokus ke permasalahan utama. Ini penting, jangan sampai jaksa dan hakim terseret pada bias kasus tersebut. Saat ini, Anwar seolah untuk menutupi Aulia Pohan, sebab besan SBY itu yang memiliki andil lebih besar dari Anwar," ujar Febridiansyah  ketika dihubungi, di Jakarta, Senin (8/9).

Menurut dia, peran Aulia dalam kasus ini lebih besar. Itu terbukti pada saat proses perbincangan di beberapa rapat dewan gubernur. Selain itu, ICW meyakini ide tersebut muncul dari ayahanda Annisa Pohan. Hal tersebut, lanjutnya, terungkap dari alat bukti dan fakta di persidangan. Selain itu, Aulia lah yang mengetahui dan menyetujui proses pencairan dan desiminasi uang Rp100 miliar itu. Oleh karena itu, Komisi Pemberantasan Korupsi harus segera mengusut keterlibatan Aulia Pohan. "Aulia ini kan susah, merupakan tantangan bagi KPK. Sebab, dia orang terdekat dengan lingkaran istana. Kalau yang lainkan lebih mudah dalam mengusutnya," tukasnya.

Namun, tutur Febri, jangan sampai ini dipolitisasi. Seperti yang diketahui Aulia merupakan kerabat dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Apalagi saat ini upaya-upaya untuk menjatuhkan orang untuk berebut kursi nomor satu di Indonesia pada Pemilu 2009, sudah semakin dekat.(BOB)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau