Penemu Padi Supertoy Menghilang

Kompas.com - 08/09/2008, 18:46 WIB

BANTUL, SENIN - Orangtua Supriadi alias Toyong mengaku anaknya, yang selama ini disebut-sebut sebagai penemu padi supertoy sudah dua bulan tidak pulang ke rumah. Mereka pun mengkhawatirkan keselamatan anaknya itu. Tetangga sekitar juga tidak mengetahui dimana keberadaan Toyong saat ini.

Basiran (65), ayah Toyong saat ditemui di rumahnya di Dusun Wonorejo 2, Desa Gading Sari, Sanden Bantul, Senin (8/9) mengatakan, sudah dua bulan ini anaknya menghilang tanpa berita. Ia takut terjadi apa-apa dengan anaknya, karena menjadi pihak yang disalahkan pada kasus gagal panen padi supertoy di Purworejo.

Kakak perempuan Toyong mengatakan, adiknya pernah pamit akan pindah ke Cikeas Bogor, tetapi ia tidak tahu dimana persisnya. Dia hanya bilang akan kerja di Cikeas Bogor. "Sekarang saya sudah kehilangan kontak karena nomor teleponnya sudah tidak bisa dihubungi," katanya.

Terkait dengan aktivitas penelitian padi Supertoy, keluarga mengaku tidak banyak mengetahui. Menurut kakaknya adiknya itu hanya tamatan STM. Dia tidak tahu kalau adiknya terlibat kegiatan penelitian ilmiah.

Menurut Basiran, anaknya lebih suka kluyuran (pergi tanpa tujuan jelas-red). Setiap kali pergi, Toyong tidak pernah pamit. Toyong juga tidak pernah terlihat membaca buku-buku seputar pertanian. Di mata keluarga Toyong juga dikenal sebagai pribadi tertutup karena jarang berbicara dengan keluarga.

Berdasarkan keterangan tetangga di sekitar rumah Toyong, yang terletak bersebelahan dengan masjid, pemuda lajang itu memang jarang terlihat di rumah. Tahun lalu setelah pergi lama, Toyong tiba-tiba pulang dengan membawa banyak uang. Ia pun membeli dua mobil baru untuk keluarganya.

Jatmiko, teman sepermainan Toyong mengaku terakhir bertemu dengannya pada akhir tahun 2007. Saat itu dia mengaku sedang mendapat proyek dari Departemen Pertanian. "Sejak itu saya tidak bertemu lagi. Saya pun kaget karena tiba-tiba dia mendapat penghargaan karena menemukan Supertoy," katanya.

Jatmiko berteman dengan Toyong sejak keduanya menempuh pendidikan di SMP Negeri I Sanden Bantul. Menurutnya, secara akademik Toyong tidak memiliki prestasi menonjol. Waktu SMP, kemampuan akademiknya hanya rata-rata saja, tambahnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul Edy Suharyanto mengatakan pihaknya tidak mengetahui aktivitas pemuliaan dan persilangan, yang dilakukan Toyong. Karenanya, mereka tidak pernah menganggap Toyong sebagai penemu Supertoy.

Menurut sepengetahuan kami tidak pernah ada aktivitas pemulian dan persilangan padi di Bantul. "Kalau hal itu dilakukan di tempat lain saya tidak tahu. Toyong tidak pernah melaporkan apapun kepada kami," katanya.

Menurut Edy, pihaknya mengetahui keberadaan Supertoy setelah ditanam oleh empat petani di wilayah Sanden. "Mereka mengaku mendapatkan benih dari Toyong, tetapi kami tidak tahu persis darimana Toyong mendapatkan Supertoy itu," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau