6.066 Bus Siap Angkut Pemudik Jakarta

Kompas.com - 08/09/2008, 22:05 WIB

JAKARTA, SENIN - Para pengusaha angkutan bus menyiapkan 6.066 bus untuk melayani 985.000 pemudik dari Jakarta pada lebaran tahun ini. Angkutan bantuan itu mulai dioperasikan 24 September atau tujuh hari menjelang (H-7) hingga 9 Oktober atau tujuh hari setelah (H+7) lebaran di empat terminal utama dan 10 terminal bantuan lainnya.

"Bus yang digunakan adalah AKAP (antarkota antarprovinsi) dari DKI, AKAP dari luar DKI, bus kota, dan bus pariwisata," kata Ketua DPD Organisasi Pengusaha Angkutan Bermotor di Jalan (DPD Organda) DKI Jakarta Herry Rotty, Senin (8/9).

Jumlah angkutan serupa yang dipersiapkan tahun ini, jelas Rotty, meningkat dibanding tahun 2007. Armada yang disediakan saat itu 5.746 bus untuk mengangkut 856.775 pemudik.

"Bertambahnya jumlah armada ini diperkirakan mampu melayani semua pemudik sehingga tidak terjadi penumpukan penumpang di terminal sampai lebih dari 24 jam," kata Rotty.

Menurut Rotty, bus yang disediakan antara lain 2.603 bus AKAP DKI, 2.995 AKAP luar DKI, 285 bus kota dan 183 bus pariwisata dari sembilan perusahaan otobus. Semua armada tersebut disediakan oleh 72 perusahaan otobus di antaranya tujuh perusahaan dari bus kota dan sembilan perusahaan dari bus pariwisata.

Kepala Subdinas Bina Usaha Angkutan, Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta, Hendah Sunugroho mengatakan saat ini disiapkan empat terminal utama dan 10 terminal bantuan yang tersebar di lima wilayah DKI Jakarta. Keempat terminal utama yang melayani pemudik adalah Pulo Gadung, Kampung Rambutan, Kalideres, dan Lebak Bulus.

Sementara kesepuluh terminal itu antara lain Cilincing, Tanah Merdeka, Tanjung Priok, Rawa Mangun, Grogol, Pinang Ranti, Muara Angke, Rawa Buaya, dan Kapten Tendean. Selain itu di Pool DAMRI Kemayoran dan pool Safari Dharma Raya (Kebayoran Lama).

Sementara itu, anggota Fraksi Partai Demokrat DPRD DKI Jakarta Johny Wenas mengatakan, Dinas Perhubungan DKI harus memperketat pengawasan kelayakan bus angkutan umum yang akan digunakan pemudik. Pengawasan ini, kata Wenas, untuk mengurangi risiko kecelakaan selama dalam perjalanan darat selama arus mudik dan arus balik Lebaran.

"Setiap bus yang dinilai tidak layak dan uji kirnya sudah melampaui batas waktu, tidak diizinkan berangkat," kata Wenas.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau