Ibu Muda Duel dengan Perampok Bertopeng

Kompas.com - 09/09/2008, 08:19 WIB

MARTAPURA  - Aksi perampokan sadis terjadi di Gang Pribadi, Jalan Sekumpul Martapura, Kalimantan Selatan. Dua wanita, satu di antaranya nenek-nenek berusia 73 tahun, dianiaya secara brutal.

Empat penghuni rumah, yaitu Mardikayah (30), Fatmi (73), Ili (9), dan Ilis (6) yang saat itu berada di rumah masih lolos dari aksi yang terjadi, Senin (8/9) dini hari itu.

Pelaku diduga masuk rumah sekitar pukul 02.00 dengan mencongkel jendela kamar depan. Setelah berhasil masuk ke dalam rumah, perampok mendapati Mardikayah dan dua putrinya yang saat itu sedang tidur di ruang tamu.

Mendengar ada langkah kaki, Mardikayah pun terbangun. Ia terkejut mengetahui ada manusia bertopeng berada di rumahnya.

Belum sempat berteriak Mardikayah ditodong senjata tajam oleh perampok. Bukannya takut, ibu dua puteri ini melawan sehingga terjadilah pergumulan dengan perampok. Saat perlawanan dilakukan, perampok berhasil merebut kalung emas seberat 26 gram dari leher Mardikayah.

Kaki perampok sempat menendang Mardikayah hingga mengenai tubuh Ili, anaknya. Bocah ini pun sontak berteriak memanggil neneknya di kamar belakang.

Ili pun berteriak-teriak. Mendengar teriakan itu perampok semakin beringas. Ia melancarkan serangan ke segala arah pada ketiga beranak yang ada di depan Mardikayah.

Dari ruang tengah, perampok mengalihkan sasaran menuju kamar Fatmi. Wajah nenek dipukul dengan menggunakan gagang pisau. Seusai melukai korbannya perampok pergi.

Saat itulah Ili memberanikan diri menelepon sanak saudaranya. Ia mengabarkan peristiwa itu sehingga ibu dan neneknya cepat ditolong. Setengah jam setelah perampok pergi, keduanya dibawa ke instalasi gawat darurat Rumah Sakit Umum Daerah Ratu Zalecha.

Kapolres Banjar AKBP Iswahyudi melalui Kasatreskrim AKP Sabana Atmojo Sik mengatakan, kasus ini sudah ditangani pihaknya. “Kami sudah tangani kasus ini. Identitas pelaku sudah kami kantongi,” ujarnya.

Darah Dikira Peluh

Mimik wajahnya masih tampak sedih. Nenek Fatmi terlihat begitu terpukul. Sampai-sampai saat diserang perampok tidak ada satu pun yang dirasakannya. Bahkan, saking paniknya darah pun dikiranya peluh.

“Aku kira awakku bepaluhan. Sekalinya darah. Perampok itu benar-benar tega,” ucapnya pelan sambil sesekali menyeka air matanya yang mengalir di sela lukanya.

Ditemui di rumahnya seusai berobat, nenek Fatmi berang melihat kekejian perampok itu.

Kucuran darah baru disadari nenek itu saat cucunya menegur kalau si nenek bersimbah darah, mulai wajah sampai ke leher. Rupanya pukulan itu sangat membekas dan parah.

Mata sebelah kiri nenek ini masih lebam. Untuk melihat pun bahkan ia sulit. Meski, demikian Fatmi masih lancar bercerita. Nenek yang masih terlihat enerjik itu sambil terisak menceritakan, dirinya selah mendapatkan firasat peristiwa itu bakal terjadi. Malam yang biasa dilaluinya dengan shalat tarawih, kemarin justru urung dikerjakan. Seperti ada yang meminta dia berada di rumah.

Hingga larut sekitar pukul 01.00 Wita, ia pun tak kunjung mengantuk. Baru ia menyadari ada bahaya mengancamnya setelah ia merasa sebelumnya tidur di atas ranjang kok sudah berada di bawah dan tiba-tiba saja ada orang bertopeng di depannya menyerang membabi buta. (niz/sar)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau