MARTAPURA - Aksi perampokan sadis terjadi di Gang Pribadi, Jalan Sekumpul Martapura, Kalimantan Selatan. Dua wanita, satu di antaranya nenek-nenek berusia 73 tahun, dianiaya secara brutal.
Empat penghuni rumah, yaitu Mardikayah (30), Fatmi (73), Ili (9), dan Ilis (6) yang saat itu berada di rumah masih lolos dari aksi yang terjadi, Senin (8/9) dini hari itu.
Pelaku diduga masuk rumah sekitar pukul 02.00 dengan mencongkel jendela kamar depan. Setelah berhasil masuk ke dalam rumah, perampok mendapati Mardikayah dan dua putrinya yang saat itu sedang tidur di ruang tamu.
Mendengar ada langkah kaki, Mardikayah pun terbangun. Ia terkejut mengetahui ada manusia bertopeng berada di rumahnya.
Belum sempat berteriak Mardikayah ditodong senjata tajam oleh perampok. Bukannya takut, ibu dua puteri ini melawan sehingga terjadilah pergumulan dengan perampok. Saat perlawanan dilakukan, perampok berhasil merebut kalung emas seberat 26 gram dari leher Mardikayah.
Kaki perampok sempat menendang Mardikayah hingga mengenai tubuh Ili, anaknya. Bocah ini pun sontak berteriak memanggil neneknya di kamar belakang.
Ili pun berteriak-teriak. Mendengar teriakan itu perampok semakin beringas. Ia melancarkan serangan ke segala arah pada ketiga beranak yang ada di depan Mardikayah.
Dari ruang tengah, perampok mengalihkan sasaran menuju kamar Fatmi. Wajah nenek dipukul dengan menggunakan gagang pisau. Seusai melukai korbannya perampok pergi.
Saat itulah Ili memberanikan diri menelepon sanak saudaranya. Ia mengabarkan peristiwa itu sehingga ibu dan neneknya cepat ditolong. Setengah jam setelah perampok pergi, keduanya dibawa ke instalasi gawat darurat Rumah Sakit Umum Daerah Ratu Zalecha.
Kapolres Banjar AKBP Iswahyudi melalui Kasatreskrim AKP Sabana Atmojo Sik mengatakan, kasus ini sudah ditangani pihaknya. “Kami sudah tangani kasus ini. Identitas pelaku sudah kami kantongi,” ujarnya.
Darah Dikira Peluh
Mimik wajahnya masih tampak sedih. Nenek Fatmi terlihat begitu terpukul. Sampai-sampai saat diserang perampok tidak ada satu pun yang dirasakannya. Bahkan, saking paniknya darah pun dikiranya peluh.
“Aku kira awakku bepaluhan. Sekalinya darah. Perampok itu benar-benar tega,” ucapnya pelan sambil sesekali menyeka air matanya yang mengalir di sela lukanya.
Ditemui di rumahnya seusai berobat, nenek Fatmi berang melihat kekejian perampok itu.
Kucuran darah baru disadari nenek itu saat cucunya menegur kalau si nenek bersimbah darah, mulai wajah sampai ke leher. Rupanya pukulan itu sangat membekas dan parah.
Mata sebelah kiri nenek ini masih lebam. Untuk melihat pun bahkan ia sulit. Meski, demikian Fatmi masih lancar bercerita. Nenek yang masih terlihat enerjik itu sambil terisak menceritakan, dirinya selah mendapatkan firasat peristiwa itu bakal terjadi. Malam yang biasa dilaluinya dengan shalat tarawih, kemarin justru urung dikerjakan. Seperti ada yang meminta dia berada di rumah.
Hingga larut sekitar pukul 01.00 Wita, ia pun tak kunjung mengantuk. Baru ia menyadari ada bahaya mengancamnya setelah ia merasa sebelumnya tidur di atas ranjang kok sudah berada di bawah dan tiba-tiba saja ada orang bertopeng di depannya menyerang membabi buta. (niz/sar)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang