Laporan Wartawan Kompas Kornelis Kewa Ama Khayam
KUPANG, SELASA - Sapi bali yang dikembangbiakkan di Nusa Tenggara Timur (NTT) seharusnya diubah namanya menjadi sapi timor. Nama sapi timor untuk menunjukkan identitas diri warga Timor dan mendorong masyarakat untuk meningkatkan sistem peternakan di daerah itu.
Wakil Gubernur NTT Esthon Foenay ketika membuka Forum Kepala Bappeda se-Kawasan Timur (KTI) di Kupang, Selasa (9/9), mengatakan, PAD NTT tahun 2008 hanya Rp 250 miliar, sedangkan Kabupaten Kutai Kertanegara mencapai Rp 1,7 triliun.
Perbedaan ini sangat mengejutkan dan membuat warga NTT harus bertanya diri, apakah PAD NTT bisa ditingkatkan atau tidak. "Pemerintah dan masyarakat NTT terus berupaya membangun daerah ini, bertolak dari latar belakang budaya, potensi sumber daya manusia, dan karakter masyarakatnya," katanya.
Karena itu, dalam waktu dekat Pemda NTT akan menuangkan dalam bentuk surat keputusan untuk memberi nama sapi bali yang selama ini disebutkan masyarakat menjadi sapi timor. Sejak nenek moyang masyarakat NTT memelihara ternak sapi sudah ada sebutan sapi timor, tetapi kemudian yang lebih populer adalah nama sapi bali karena pegaruh Orde Baru.
Hadir dalam kegiatan itu 12 Kepala Bappeda se-KTI, Ketua Pokja KTI Dr Marwah Daud Ibrahim, Kepala Bagian Perencanaan Ditjen Bina Bangda Depdagri Eka Atmaja Baskara Hadi, Deputi Menteri/Kepala Bappenas Bidang Evaluasi Kinerja Pembangunan Bambang Widianto, serta Kepala Pusat Pembinaan Pendidikan dan Pelatihan Bappenas Dr Ayip Syaefullah. Keduabelas Kepala Bappeda se-KTI itu, antara lain Alex Rumaseb dari Papua, Ishak Hallatu dari Papua Barat, Ristianto Sugiono dari Maluku, Lalau Faturrahman dari NTB, dan Tan Malaka Guntur dari Sulawesi Selatan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang