Penyu Dilepas, Penyu Kembali

Kompas.com - 09/09/2008, 10:18 WIB

NUSA DUA, SENIN - Berbagai kegiatan dilakukan para petenis dunia yang mengikuti turnamen tenis CommonwealthBank Tennis Classic 2008 di Bali. Salah satunya adalah melepas anak penyu di pantai dekat The Westin Resort, Nusa Dua Bali. Namun, seperti return service, sebagian besar anak penyu kembali ke tangan yang melepasnya. Para petenis, seperti Patty Schnyder dan Natalie Grandin, seperti tidak percaya saat anak-anak penyu yang mereka lepaskan ke arah laut justru menggapai-gapai kembali ke arah mereka.

Sebagian besar penyu kecil tersebut tampaknya tidak ingin menghadapi "buasnya" lautan luas yang terbentang di hadapan mereka. Apalagi, ombak yang bergulung ke pantai langsung mendorong mereka kembali ke "ibu-ibu" mereka tersebut. Schnyder, petenis Swiss peringkat 13 dunia, yang terbiasa menghadapi return service seperti kaget menerima "pengembalian" ombak tersebut. "No... no... that way," kata Schnyder sambil berusaha mengembalikan sang penyu ke arah lautan lepas. Akhirnya, tukik-tukik tersebut mau pergi ke arah lautan. Bagaimana nasib mereka kelak tidak ada yang tahu.

Pantai dekat The Westin Resort, Nusa Dua Bali, ini memang merupakan satu fasilitas yang ditawarkan pihak hotel kepada tamu-tamu mereka. Di tanah seluas 9,7 hektar itu, pihak Westin menyediakan fasilitas standar hotel, seperti kolam renang. "Kami memiliki kolam renang dengan fresh water dan salt water," kata Andry Kurniawan, Marketing Communication Manager Westin.

Di kolam renang Westin itulah petenis India, Shikha Uberoi, mencoba belajar olahraga selam. Sikha yang bertubuh atletis tersebut dipandu beberapa instruktur dari Dugong Bali Dive meluncur di dasar kolam renang. Terkadang geraknya diikuti oleh anak-anak balita tamu hotel yang juga tengah belajar berenang. Bila Sikha menyandang aqualung, bule-bule kecil tersebut mengenakan pelampung.

Dengan fasilitas 346 kamar, Westin menyasar pasar keluarga, terutama keluarga-keluarga dari negara-negara Eropa yang ingin berlibur di Bali. Menurut Andry, turis Jepang dan Taiwan juga menyukai wisata tepi pantai dan betah berjam-jam berjemur matahari. Sementara turis-turis dari Korea biasanya datang sebagai bagian dari bulan madu mereka. "Korea biasanya datang tidak berkelompok," lanjutnya.

Sementara wistawan loka sudah mengenal Westin yang mengambil manajemen dari Sheraton Nusa Indah pada 2003 tersebut. "Mereka mengenal tempat ini terutama karena fasilitas meeting room yang dikenal dengan nama Bali International Convention Center atau BICC," kata Andry lagi. Fasilitas BICC inilah yang oleh pihak Westin tengah dipersiapkan untuk menjadi ajang penyelenggaraan CommonwealthBank Tournament of Championship pada November 2009 mendatang.

Fasilitas convention center akan disulap menjadi menjadi sebuah tennis-indoor, lengkap dengan pendingin ruangan. In-door stadium dadakan ini akan menampung sedikitnya 2500 penonton yang akan menyaksikan para petenis dunia bertanding di Bali. "Untuk fasiltas latihan, kami masih memiliki empat lapangan tenis out-door," kata Desiria dari manajemen Westin. Detil perencanaan seperti spesifikasi posisi lapangan, standarisasi jarak lapangan dengan penonton mau pun penerangan masih dikoordinasikan dengan pihak CommonwealthBank selaku penyelenggara.

Menurut para petenis yang pernah datang ke Bali, sejak Wismilak Open hingga Commonwealthbank Tennis Classic, suasana serta keramah tamahan menjadi salah satu daya tarik. Westin mencoba menawarkan itu kepada para pemain tenis dunia tersebut, termasuk melalui penyu-penyu kecil yang tidak mau lepas dari tangan Patty Schnyder dan pemilik Wismilak, Willy Walla, penggagas turnamen tenis internasional di Bali. "Siapa tahu, suatu saat mereka akan kembali mencari saya," kata Willy Walla. Betul pak, I shall return.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau